InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga kontrak minyak sawit mentah di Bursa Malaysia melemah pada Senin, (16/10/2023), namun demikian harga masih berada pada level tertinggi selama dua minggu terakhir dibanding sesi sebelumnya karena mata uang ringgit yang lebih lemah dan ekspor yang lebih tinggi mendukung harga.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit berkode FCPOc3 untuk pengiriman bulan Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM 14 per ton atau terdapat penurunan sekitar 0,37%, menjadi RM 3,745 (US$ 790,08) per metrik ton pada awal perdagangan.
Merujuk laporan Surveyor Kargo Intertek Testing Services pada Minggu, mencatat ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-15 Oktober naik 7,3% menjadi 623.245 metrik ton dari 580.893 metrik ton yang dikirimkan pada 1-15 September lalu.
BACA JUGA: Bursa CPO Indonesia, Upaya Perbaiki Tata Kelola Perdagangan CPO di Indonesia
Sementara pemerintah Indonesia menurunkan harga referensi minyak sawit mentah (CPO) untuk periode 16-31 Oktober menjadi US$ 740,67 per ton, dari sebelumnya US$ 827,37 per ton saat ini, merujuk peraturan kementerian perdagangan pada Jumat.
Impor minyak sawit India pada bulan September turun 26% dari bulan sebelumnya menjadi 834.797 ton, terendah dalam tiga bulan, karena persediaan yang lebih tinggi mendorong penyulingan untuk mengurangi pembelian, sebuah badan perdagangan mengatakan pada hari Jumat.
Mata uang Ringgit = MYR, mata uang perdagangan sawit, turun 0,32% terhadap dolar, menjadikan komoditas ini lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang asing.
Masih dilansir Reuters, harga kontrak minyak kedelai di bursa Dalian berkode DBYcv1, naik 1,3%, sementara kontrak minyak sawit DCPcv1 naik 1,8%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 naik 0,77%.
Minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lainnya, lantaran mereka bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global. (T2)
