InfoSAWIT, KUALA KUMPUR – Produksi minyak sawit Malaysia diperkirakan mencapai puncaknya pada September dan secara bertahap menurun mulai bulan Oktober dan seterusnya, bertepatan dengan musim hujan di Malaysia.
Dilansir PalmPulse, terbitan Malaysian Palm Oil Council (MPOC), perkiraan tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran terkait El Nino yang menyebabkan tekanan kekeringan pada pohon kelapa sawit di Malaysia untuk sementara telah mereda, dengan perkiraan akan terjadi hujan lebat dan badai petir selama fase transisi monsun pada pertengahan September hingga November.
Sebaliknya, wilayah budidaya kelapa sawit di Indonesia, utamanya untuk wilayah Kalimantan dan Sumatra, terus mengalami kelangkaan curah hujan sejak bulan Juli. Merujuk data ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC)), yang nampak pada Gambar dan dikuatkan oleh pengamatan satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), mencatat bahwa wilayah tertentu di semenanjung Malaysia, Sabah, dan Sarawak menikmati curah hujan yang cukup pada bulan September. Sebaliknya, wilayah Kalimantan dan Sumatra mencatat total 4.810 titik panas pada bulan yang sama, yang merupakan indikator utama kurangnya curah hujan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN 19 Oktober 2023 Naik 0,75 Persen, Dumai Withdraw
Pola cuaca yang tidak menguntungkan ini berpotensi menyebabkan tekanan kekeringan pada tanaman kelapa sawit di Indonesia, yang pada akhirnya mengakibatkan penurunan produksi pada paruh kedua tahun 2024. “Kondisi ini dapat memberikan dukungan penting terhadap harga minyak kelapa sawit,” demikian catat PalmPulse.
Sementara, India dan Tiongkok, dua importir minyak sawit terbesar, mengalami peningkatan persediaan minyak nabati hingga mencapai rekor tertinggi, masing-masing mencapai 1,46 juta ton pada tanggal 1 September dan 2,1 juta ton pada tanggal 22 September.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 20-26 Oktober 2023 Naik Tipis, Cek Harganya..
Perayaan Diwali di India pada bulan November dan Pekan Emas Tiongkok pada awal Oktober menjelaskan tingginya persediaan minyak nabati di kedua negara. Akibatnya, ekspor minyak sawit Malaysia ke kedua negara diperkirakan akan melambat setelah perayaan tersebut, sehingga persediaan minyak sawit Malaysia tetap di atas 2 juta ton hingga akhir tahun 2023, sehingga dapat membatasi kenaikan harga minyak sawit. (T2)
