InfoSAWIT, JAMBI – Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), Pahala Sibuea menggarisbawahi, urgensi pengoptimalan pendapatan petani kelapa sawit di tengah tantangan berkelanjutan. Seiring dengan itu, Pahala menyoroti perlunya kerjasama erat antara para pemangku kepentingan kelapa sawit, terutama antara pemerintah dan petani yang masih merasa diabaikan.
Penanganan isu-isu tersebut memerlukan kolaborasi yang kuat dan transparan untuk memastikan keberlanjutan industri kelapa sawit. “Belum lagi kerjasama petani dengan pelaku usaha yang juga menghadapi hal serupa, dan petani menganggap kerjasama itu masih bersifat abu-abu,” ungkap Pahala saat acara Indonesia Palm Oil Smallholder Conference and Expo (IPOSC) ke-3 bertajuk “Optimalisasi Sawit Rakyat Sebagai Penghasil Devisa di Pusaran Tata Kelola Sawit Berkelanjutan”, di hadiri InfoSAWIT, Selasa (28/11/2023) di Jambi.
Lebih lanjut Pahala Sibuea mengungkapkan, acara IPOSC ketiga ini dihadiri oleh sekitar 300 petani sawit dari 10 asosiasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Lampung, Jambi, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
BACA JUGA: Stakeholder Sawit Dukung Sinergisitas untuk Wujudkan Kesejahteraan Petani
“Acara ini adalah langkah penting dalam menghadirkan platform bagi petani untuk saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan mencari solusi bersama dalam menghadapi dinamika industri kelapa sawit,” ujar Pahala.
Ketua Pembina POPSI, Gamal Nasir, mengungkapkan bahwa isu rendahnya produktivitas masih menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh petani kelapa sawit hingga saat ini. Oleh karena itu, fokus pengembangan sektor hulu perkebunan kelapa sawit dianggap sebagai kunci untuk mengatasi permasalahan tersebut. “Kunci untuk meningkatkan pendapatan petani adalah dengan meningkatkan produktivitas,” kata Gamal.
Dimana dengan adanya peningkatan produktivitas akan secara langsung berdampak pada kesejahteraan petani. Sebagai langkah lebih lanjut, Gamal Nasir mendorong petani untuk memiliki saham di pabrik kelapa sawit. “Jadi dengan adanya saham petani di pabrik kelapa sawit maka akan mampu pula meningkatkan pendapatan petani,” tambahnya.
BACA JUGA: Seruyan Kian Mantap Menuju Sertifikasi Yurisdiksi Berkelanjutan
Walaupun tidak diwajibkan membangun pabrik sendiri, memiliki saham akan memberikan petani kelapa sawit akses lebih besar terhadap keuntungan dari industri tempat hasil panennya diolah.
