Pertamina juga aktif dalam pengembangan geothermal di enam wilayah di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Kapasitas operasional produksi geothermal pada tahun 2023 mencapai 672,5 megawatt (MW), dengan rencana penambahan kapasitas menjadi 340 MW dalam dua tahun mendatang.
Tidak hanya berfokus pada energi terbarukan, tetapi juga tengah mengembangkan kilang hijau atau green refinery berbasis sawit. Fase kedua pengembangan green refinery di Cilacap, Jawa Tengah, sedang berlangsung dengan target kapasitas produksi hidrogen sebesar 6 kilo barel per hari (KBPD).
Selain itu, Pertamina menggagas pengembangan hidrogen di lima klaster yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Kelima klaster ini diproyeksikan memiliki potensi hidrogen sebesar 1,8 juta ton per tahun (Mtpa).
BACA JUGA: Disbun Kaltim Gandeng Lembaga Sertifikasi TSI Dorong Sertifikasi ISPO di Paser
Oki menegaskan bahwa kolaborasi, pengembangan teknologi, dan dukungan regulasi merupakan kunci sukses dalam strategi transisi energi dan pengurangan emisi. Pertamina terus bekerja sama dengan mitra strategis dan membutuhkan insentif dari pemerintah untuk mendorong transfer teknologi, meminimalisir risiko, dan mendukung pertumbuhan perusahaan. Capaian Pertamina menjadi inspirasi bagi industri energi global dalam mencapai target Net Zero Emission 2060.
Sementara Direktur Transmisi dan Sistem Perencanaan PLN, Evy Haryadi, meyakini bahwa kolaborasi antara PLN dan Pertamina memiliki dampak positif dalam mengatasi tantangan transisi energi (T2)
