InfoSAWIT, MADRID – Pemerintah Republik Indonesia bersinergi dengan Yayasan Minyak Sawit Berkelanjutan Spanyol telah menggelar forum yang melibatkan pakar, pelaku pasar, dan sektor publik Spanyol. Forum ini bertujuan untuk membahas perkembangan dan kebijakan terkini terkait minyak nabati berkelanjutan serta dampaknya terhadap pasar dan produsen.
Dalam sambutan pembukaannya, Duta Besar Muhammad Najib menyoroti pentingnya dialog antara industri terkait, komunitas pakar, dan negara mengenai isu minyak nabati berkelanjutan. Forum ini dihadiri oleh narasumber dari pemerintah, masyarakat sipil, dan asosiasi industri.
Dalam seminar Epistemic Community and Market Forum (ECMF), menyajikan pandangan dari berbagai pihak terkait isu ini. Beberapa narasumber, seperti Musdhalifah Machmud dari Kementerian Perekonomian RI, menyoroti bahwa hanya sebagian kecil daratan Indonesia yang dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit. Namun, industri ini menyumbang signifikan terhadap ekspor Indonesia, menciptakan lapangan kerja, dan berkontribusi terhadap 10 dari 17 Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.
BACA JUGA: BPKP Kalbar Audit Kerugian Negara Pada Program Peremajaan Sawit KUD Sinar Mulia
Sementara diungkapkan Musdhalifah Machmud dari Kementerian Perekonomian RI menjelaskan bahwa hanya 7,4 persen dari 189 juta hektar luas daratan Indonesia yang dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit. Dari 16,38 juta hektar yang dipergunakan tersebut, 41,3 persen di antaranya merupakan perkebunan milik petani kecil. Industri sawit sendiri menyumbang 10,2 persen ekspor Indonesia pada tahun 2022 serta berkontribusi langsung bagi penciptaan 5,5 juta lapangan kerja serta bagi 17 juta orang pekerja yang terkait secara langsung maupun tidak langsung.
Karenanya, industri sawit berkontribusi bagi pencapaian 10 dari 17 UN Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. Kelapa sawit yang berkontribusi bagi 40 persen suplai total minyak nabati global hanya menggunakan 8 persen dari total luas lahan perkebunan minyak nabati di seluruh dunia, dengan tingkat rendemen 4-7 kali lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lain.
Lantas, Diah Suradiredja dari Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) menjelaskan kebijakan pengendalian iklim, termasuk Long-term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience (LTS LCCR) 2050. Strategi jangka panjang Indonesia menuju net zero emission (NZE) melalui emisi forest and other land use (FOLU) harus disesuaikan dengan kebijakan sawit untuk mencapai sinergi yang optimal.
BACA JUGA: Buruh dan Pengusaha Sawit Kampanye Sawit Bersama di Uni Eropa
Demikian pula, Rio Budi Rahmanto dari Kementerian Luar Negeri RI menekankan manfaat ekonomi dan upaya Indonesia dalam mengurangi tingkat deforestasi, menciptakan keberlanjutan dalam industri minyak sawit. Namun, Insan Syafaat dari LSM Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture mengingatkan akan ancaman bagi petani kecil akibat European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang dapat membahayakan penghidupan mereka.
Carmen Báguena, Advisor LSM Yayasan Minyak Sawit Berkelanjutan Spanyol, menggarisbawahi bagaimana penerapan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dianggap sebagai komoditas tercela di Eropa karena mispersepsi dan misinformasi. Komisi Eropa ditantang untuk menindak produsen yang menyalahgunakan label “bebas minyak sawit” demi keuntungan pelabelan semata. (T2)
