InfoSAWIT, NEW DELHI – Harga kontrak minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia turun pada Senin (11/12/2023), dampak penurunan ekspor, menggambarkan melemahnya permintaan pada awal musim dingin.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit berkode FCPOc3 untuk pengiriman Februari 2024 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM 13 per ton atau terdapat penurunan sekitar 0,35%, menjadi RM 3.727 (US$ 796,54) per ton pada istirahat tengah hari.
Diungkapkan pedagang yang berbasis di Mumbai, ekspor yang lebih rendah dari Malaysia menunjukkan permintaan yang lebih lemah. “Ini tidak mengherankan karena permintaan cenderung sedikit turun di musim dingin,” katanya.
Merujuk laporan surveyor kargo Intertek Testing Services ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-10 Desember turun 7,4% menjadi 368.990 metrik ton dari sebelumnya mencapai 398,375 ton pada periode yang sama bulan lalu.
Catat Reuters, permintaan minyak sawit biasanya turun pada bulan musim dingin lantaran suhu yang lebih rendah, membuat minyak nabati menjadi beku dan itulah sebabnya konsumen merasa sulit untuk menggunakannya.
Sementara, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOc2 naik 0,5%.
BACA JUGA: Hasil Riset Sawit Melesat, Industri Belum Banyak Menyerap
Indonesia, produsen minyak sawit terbesar di dunia, akan melanjutkan kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 35% pada tahun 2024 dan telah mengalokasikan 13,41 juta kiloliter biodiesel untuk tahun depan, sedikit lebih tinggi dari 13,15 juta kiloliter yang dialokasikan untuk tahun 2023. (T2)
