InfoSAWIT, MUMBAI – Harga kontrak minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia melanjutkan kenaikan pada awal perdagangan di Jumat, (15/12/2023), didukung adanya penurunan produksi pada Desember di negara-negara produsen utama, akibat cuaca kering dan penurunan stok.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Februari 2024 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM 16 per ton atau terdapat penurunan sekitar 0,43%, menjadi RM 3.704 (US$ 793,66) per ton di awal perdagangan.
Merujuk laporan dari MPOB, stok minyak sawit Malaysia pada akhir November 2023 turun untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir, akibat penurunan produksi yang lebih tinggi ketimbang kegiatan ekspor.
BACA JUGA: Produksi Minyak Sawit Indonesia Tahun 2022 Naik 3,7 Persen Riau Tertinggi
Sementara pemerintah Indonesia berencana menetapkan harga referensi minyak sawit mentah (CPO) per metrik ton untuk periode 16-31 Desember turun menjadi US$ 767,51 dibanding periode dua minggu sebelumnya yang dipatok US$ 795,14.
Dari Laporan surveyor kargo, untuk periode 1-10 November 2023 ekspor minyaik sawit Malaysia tercatat turun menjadi 4,1% dibanding periode sebelumnya yang terdapat kenaikan sekitar 7,4%.
Masih dilansir Reuters, di bursa Chicago Board of Trade harga kontrak minyak kedelai kedelai berkode BOc2 naik 0,76%.
BACA JUGA: Wamendag Jerry: Perkuat Perdagangan CPO Nasional Untuk Ekonomi Negara
Harga minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lainnya lantaran mereka bersaing untuk memperoleh bagian di pasar minyak nabati global. (T2)
