Peningkatan Sumber Daya Manusia Perkebunan tidak hanya pada Petaninya saja juga harus melibatkan buruh tani Perkebunan sawit, buruh ini dapat dimanage dengan baik sehingga hak-hak buru dapat akomodir sepertihalnya dengan jaminan sosial dan jaminan ketenaga kerjaan.
“Melalui pendidikan dan pelatihan, diharapkan produksi dan produktivitas dapat meningkat, serta industri kelapa sawit dapat dikelola secara berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Arahnya adalah mencapai produktivitas 30-40 ton TBS/ha/tahun, rendemen 23-25%, dan keberlanjutan yang tinggi,” katanya, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Jumat (15/12/2023).
Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Zaid Burhan Ibrahim, praktik budidaya di tingkat petani telah mengalami pergeseran signifikan dari metode konvensional menuju pendekatan yang lebih modern. Petani kelapa sawit cenderung menerapkan ilmu pengetahuan yang lebih maju untuk meningkatkan efisiensi dan hasil produksi mereka.
BACA JUGA: CPOPC: Berikut 5 Hasil Upaya Bersama Indonesia dan Malaysia Hadapi Regulasi EUDR
Namun demikian, pentingnya integrasi sektor dari hulu hingga hilir menjadi fokus utama dalam budidaya kelapa sawit modern. Melalui riset, sarana prasarana (sarpras), dan kegiatan lainnya, bisa mendukung petani dalam memaksimalkan pemanfaatan hasil kelapa sawit. Produk-produk seperti baju anti-peluru, batik, dan berbagai inovasi lainnya telah dihasilkan dari kelapa sawit, menciptakan nilai tambah yang signifikan.
“Program Peningkatan Kesejahteraan Petani (PSR) menjadi instrumen utama dalam mewujudkan kesejahteraan bagi para petani kelapa sawit. Dengan target 180 ribu petani per tahun, pemberian hibah sebesar Rp 30 juta per hektar, maksimal 4 hektar, memberikan dorongan finansial yang signifikan,” katanya. (T2)
