InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga kontrak minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia turun pada Kamis, (28/12/2023) setelah mengalami kenaikan dalam dua sesi berturut-turut, terbebani oleh melemahnya harga minyak nabati lain, kendati perkiraan produksi yang lebih rendah membatasi kerugian.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit berkode FCPOc3 untuk pengiriman Maret 2024 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM 10 per ton atau terdapat penurunan sekitar 0,27%, menjadi RM 3.760 (US$ 814,91) per ton pada tengah hari.
Diungkapkan Kepala Riset minyak nabati Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, minyak sawit diperkirakan diperdagangkan lebih rendah menyusul melemahnya kontrak berjangka minyak nabati Tiongkok dan melemahnya kinerja minyak sawit Malaysia selama bulan Desember 2023.
BACA JUGA: TRADE Hub Initiative Ungkap Hubungan Perdagangan Komoditas Sawit dengan Deforestasi Global
“Walaupun perkiraan produksi yang lebih rendah telah membatasi penurunan harga minyak sawit,” kata Bagani dilansir Reuters.
Merujuk laporan Asosiasi Minyak Sawit Malaysia memperkirakan produksi minyak sawit Malaysia turun 8,59% pada periode 1-20 Desember, sementara Kay Hian dari UOB memperkirakan produksi turun 7% hingga 11%.
Harga kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian berkode DBYcv1 turun 0,39%, sedangkan harga kontrak minyak sawit berkode DCPcv1 turun 0,33%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 turun 0,27%.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 27 Desember 2023 – 9 Januari 2024 Tertinggi Rp 2.499,90/kg
Minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lain lantaran mereka bersaing untuk mendapatkan bagian di pasar minyak nabati global. (T2)
