InfoSAWIT, BANDUNG – Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis (TRKK) serta Pusat Rekayasa Katalisis (PRK) menegaskan pentingnya Indonesia memproduksi sendiri katalis, elemen kunci dalam produksi bahan bakar hijau. Kepala Lab TRKK ITB, Melia Laniwati Gunawan menyatakan, bahwa katalis memiliki peran krusial dalam pengembangan bahan bakar hijau, terutama dalam konversi minyak nabati menjadi biofuel.
Indonesia masih mengimpor sebagian besar katalis dari luar negeri, seperti Jerman, India, Cina, dan Amerika Serikat. Menurut Melia, harga tinggi dan eksklusivitas bahan baku dan cara pembuatan dari negara-negara tersebut dapat menjadi masalah, terutama jika terjadi embargo. “Oleh karena itu, kemandirian produksi katalis menjadi sangat penting bagi Indonesia,” katanya saat acara kunjungan jurnalis ke Lab TRKK ITB, Rabu (31/1/2024) dihadiri InfoSAWIT, di Bandung.
Saat ini, ITB telah berhasil mengembangkan dan memproduksi katalis dengan reaktor yang mampu menghasilkan hingga 40 kilogram per hari. Meskipun masih dalam tahap penelitian, Harapannya adalah proyek strategis nasional berupa pabrik katalis di Cikampek, Jawa Barat, dapat direalisasikan.
BACA JUGA: Bea Keluar dan Pungutan Ekspor Sawit Februari 2024 Ditetapkan US$ 118 per Ton
Melia menekankan fokus TRKK dan PRK ITB pada pengembangan teknologi katalisis dan pemrosesan minyak sawit serta inti sawit menjadi berbagai produk bernilai tinggi. Bensin Sawit (Bensa) yang dihasilkan setelah penelitian sejak 1982, mengalami uji coba pemakaian pada motor dari Bandung ke Sabang pada tahun 2019. Selain itu, katalis untuk membersihkan pengotor pada produk nafta dan diesel fosil menghasilkan Diesel Biohidrokarbon yang berhasil diujicobakan sejak tahun 2005.
Katalis hydrotreating yang dikembangkan juga dapat mengkonversi minyak inti sawit menjadi bio-kerosene (bahan baku avtur). Bioavtur J2.4, campuran 2.4 persen bio-kerosene dalam avtur fosil, telah berhasil diproduksi dan diuji terbang menggunakan pesawat CN235 dan Boeing 737-800.
Anggota Tim Pengembang Katalis PRK ITB, IGBN Makertiharta menyatakan, bahwa pengembangan teknologi katalisis ini membutuhkan upaya lebih lanjut untuk mencapai skala komersial dan diterima oleh masyarakat Indonesia. “Potensi besar ini membuka peluang bagi Indonesia sebagai produsen bahan bakar nabati terbesar di dunia, mengingat keberagaman sumber daya alam minyak nabati yang dimiliki,” katanya.
BACA JUGA: Ganjar Pranowo Dicurhati Petani Sawit, Berikut Tiga Harapan Petani
Pentingnya dukungan pemerintah dalam kebijakan yang mendukung petani dan produk bahan bakar nabati, studi keberterimaan produk, studi pasar, serta analisis siklus hidup juga menjadi faktor krusial dalam mengoptimalkan hasil penelitian ini.
Keberpihakan pemerintah terhadap pemanfaatan sawit sebagai bahan baku bahan bakar nabati diharapkan dapat memperkuat sektor ini untuk mendukung kemandirian dan keberlanjutan energi di Indonesia. (T2)
