Padahal Kementerian Pertanian melakukan uji coba biodiesel 100% (B100) untuk mobil dan traktor sejak 2019. Amran Sulaeman sudah berpikir lebih maju, produsen traktor (mitra Kementan) diminta untuk menyesuaikan mesinnya untuk biofuel,” Menurutnya, penggunaan 1 liter B100 bisa menjalankan kendaraan hingga 13,1 kilometer, jauh lebih tinggi daripada solar yang 1 liter hanya cukup untuk 9,6 kilometer. (Katadata.co.id, 15 April 2019).
Ternyata kualitas Bio-Solar lebih baik dari Solar diesel fosil, FAME adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari minyak nabati (CPO) melalui proses transesterifikasi. FAME tidak bersifat toksik dan merupakan bahan bakar yang biodegradable. Minyak FAME memiliki nilai “angka setana sebesar 56” yang lebih besar dari minyak diesel. sedangkan untuk “angka setana minyak diesel adalah 48”.
Jadi tidak usah ada kekuatiran akan kekurangan bahan baku jika ingin melakukan program B100, karena produksi minyak Sawit Nasional dapat mencapai 92 juta ton, bahkan 100 juta ton di tahun 2030-2032, tinggal bagaimana upaya seluruh stake holder dapat berkerja sama untuk mewujudkannya. Ini merupakan pekerjaan rumah bagi Direktorat Jendral Perkebunan dan GAPKI.
Penghematan Devisa dari impor solar sebesar Berdasarkan data Aprobi, pengurangan impor solar pada 2023 Rp 173,2 triliun (13,15 juta KL) tahun 2023, akan bertambah menjadi Rp 577.3 trilyun (43.8 juta KL) pada tahun 2030, jika B-100 terlaksana.
Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis serta tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.
