Dari hasil penelitian tersebut mencatat, rekayasa media tanam dan sistem manajemen air terbukti meningkatkan sifat fisika dan kimia tanah, kelembapan tanah, dan pH air. “Dampaknya, perkembangan akar dan produksi kelapa sawit meningkat signifikan, dengan produktivitas mencapai 2,88 ton per hektar per tahun, meningkat 21% dibandingkan kontrol yang hanya 0,33 ton per hektar per tahun,” demikian catat hasil penelitian tersebut.
Selama 36 bulan setelah perlakuan, terdapat peningkatan berat basah akar sebesar 47% (0,52 kg pohon-1 bulan-1), berat kering sebesar 55% (0,20 kg pohon-1 bulan-1), dan volume akar sebesar 46% (52 cm3 pohon-1 bulan-1) dibandingkan dengan kontrol. Kadar hara daun pada kontrol dan perlakuan tetap berada pada level optimum, menunjukkan bahwa perlakuan tidak berdampak negatif pada kualitas hara daun.
“Penerapan teknologi smart estate di perkebunan kelapa sawit pada tanah Spodosols menggunakan data perkebunan (SAP system), data iklim (Nusaklim web), dan data perilaku air (Agrieye web) untuk mendukung keputusan berbasis perilaku air dan media perakaran secara tepat. Teknologi ini mampu meningkatkan produksi tandan buah segar (TBS) hingga 21%,” catat tim peneliti.
BACA JUGA: Harga Stearic Acid di AS Meningkat pada Juni 2024
Keterbaruan dari penelitian ini adalah integrasi antara teknologi, karakteristik Spodosols, dan tanaman kelapa sawit dalam model dan aplikasi smart estate berbasis perilaku air dan media perakaran.
“Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi solusi mitigasi permasalahan pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan di tanah Spodosols, sehingga mampu meningkatkan nilai tambah dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” demikian dari laporan hasil penelitian itu. (T2)
