Lantas ketiga, ketertelusuran, Indonesia dan Malaysia mempresentasikan alat penelusuran mereka, yaitu National Dashboard, Sawit Intelligent Management (SIMS), dan e-MSPO.
Keempat UE mempresentasikan perkembangan Observatorium Deforestasi dan Degradasi Hutan mereka, sementara Indonesia dan Malaysia mempresentasikan kebijakan dan data mereka mengenai deforestasi. “UE terbuka untuk masukan dan diskusi mengenai isi peta mereka,” kata Sekjen CPOPC, Rizal Affandi Lukman dalam sebuah acara di Jakarta dihadiri InfoSAWIT.
Serta kelima, Indonesia dan Malaysia menyoroti larangan berbagi data geolokasi di kedua negara. UE menjawab bahwa data yang diperlukan akan bersifat anonim dan tidak terkait dengan informasi pribadi apa pun dari individu tersebut.
BACA JUGA: Ratusan Ribu Lahan HGU Ditelantarkan, Ketua SPKS Aceh Minta Kanwil BPN Aceh Transparan
Dikatakan Rizal, terdapat pembaruan dan langkah kedepan yang akan dilakukan CPOPC dalam mendukung fasilitasi kelanjutan Workstream dengan cara-cara seperti pada Workstream 1, dengan memfasilitasi petani sawit kecil untuk kesiapan implementasi EUDR melalui CPOPC International Smallholders Workshop 2024 pada bulan Juni. (T2)
