InfoSAWIT, JAKARTA – Musim Mas Group, bekerja sama dengan Livelihoods Fund for Family Farming (L3F), SNV Indonesia, dan ICRAF, menjalankan Program Biodiverse & Inclusive Palm Oil Supply Chain (BIPOSC) untuk meningkatkan kapasitas pekebun swadaya kelapa sawit melalui pendekatan perkebunan regeneratif. Program yang dimulai pada 2021 ini telah diimplementasikan di Labuhanbatu, Sumatera Utara, dengan tujuan menciptakan rantai pasok minyak kelapa sawit yang berkelanjutan dan bebas deforestasi.
BIPOSC mengusung konsep regeneratif yang fokus pada peningkatan kesehatan tanah dan keanekaragaman hayati. Selain itu, program ini juga menerapkan model agroforestri yang diadaptasi sesuai kondisi lokal, dengan perlindungan ekosistem sebagai pilar utamanya. Target dari program ini adalah pekebun swadaya yang tergabung dalam Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhanbatu (APSKS LB), yang juga mendapat binaan dari Musim Mas dalam upaya memperoleh akses pasar dan sertifikasi dari RSPO dan ISPO.
Diungkapkan General Manager Project & Program Musim Mas Group, Rob Nicholls, pekebun swadaya memiliki peran penting dalam masa depan industri kelapa sawit yang berkelanjutan. Walaupun dalam awal progam banya tantangan yang harus dihadapi, lantaran beanyak mengajak pekebun sawit dalam menerapkan praktik budidaya yang berkelanjutan.
BACA JUGA: 400 Lebih Pelaku Usaha di Tiongkok Telah Menjadi Anggota RSPO
Namun demikian kata Rob Nicholls, semua dilakukan dengan terus melakukan sosialisasi sehingga pekebun sawit swadaya bisa memahami mengenai program tersebut.
“Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pekebun, terutama dalam pengelolaan lahan dan pengembangan alternatif pendapatan. Hal ini bertujuan untuk mencapai rantai pasok yang inklusif dan kaya akan keanekaragaman hayati,” ujarnya kepada InfoSAWIT, Kamis (17/10/2024) di Jakarta.
Program BIPOSC tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga mendukung pengembangan kapasitas institusi melalui pembentukan Composting Unit dengan kapasitas produksi 100-150 ton per bulan. Hingga 2023, unit ini telah memproduksi 588 ton pupuk kompos, dengan keuntungan mencapai Rp 421 juta. Composting Unit ini menawarkan pupuk kompos dengan harga lebih terjangkau, sekitar separuh dari harga pasar, dan telah mendorong pekebun anggota APSKS LB untuk beralih menggunakan pupuk kompos.
BACA JUGA: Pengembangan SDM Pekebun Kelapa Sawit Jadi Prioritas Penting untuk Hadapi Tantangan Industri
SNV Indonesia juga memainkan peran penting dalam program ini dengan fokus pada penerapan perkebunan regeneratif dan model agroforestri. “Kami menerapkan pendekatan yang komprehensif untuk menjaga kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati, yang bermanfaat bagi perekonomian dan kehidupan pekebun,” ujar Rizki Pandu Permana, Country Director SNV Indonesia.
