Ia juga menyinggung kebijakan Food Estate yang mengalihfungsikan hutan menjadi lahan pertanian. “Apakah masih kurang? Lebih baik dikaji ulang,” ujarnya.
Terkait argumen bahwa sawit juga menghasilkan oksigen, Aziz membantahnya dengan menegaskan bahwa secara biologis sawit bukanlah pohon. “Sawit tidak memiliki batang kambium atau jaringan kayu. Secara taksonomi, ia masuk dalam palem-paleman dan memiliki akar serabut,” jelasnya.
Struktur akar serabut sawit membuatnya kurang stabil di tanah tertentu, sehingga lebih rentan tumbang. Selain itu, umur produktif sawit hanya sekitar 20-30 tahun sebelum produktivitasnya menurun drastis. Sawit juga ditanam secara monokultur, yang membuatnya rentan terhadap perubahan iklim dan serangan hama. Aziz memperingatkan bahwa keberagaman plasma nutfah sawit yang rendah dapat menjadi ancaman jika terjadi serangan hama secara masif.
BACA JUGA: Permintaan Minyak dan Lemak Dunia Meningkat Drastis, Masa Depan Sawit Jadi Perhatian
“Jika satu jenis sawit terkena hama, seluruh perkebunan sawit di Indonesia bisa terdampak. Ini sangat berisiko bagi ketahanan energi dan ekonomi kita,” tambahnya.
Sebagai solusi, Aziz menyarankan agar pemerintah lebih fokus pada intensifikasi pertanian daripada membuka lahan baru. Menurutnya, langkah ini bisa dilakukan dengan meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada tanpa harus merusak ekosistem hutan.
“Memaksimalkan lahan pertanian yang ada jauh lebih bijak dibanding terus-menerus membuka hutan untuk perkebunan sawit,” pungkasnya. (T2)
