InfoSAWIT, BANGKOK – Pasar saham global sebagian besar mengalami kenaikan pada Selasa (2/4), meskipun ketidakpastian menyelimuti kebijakan tarif baru yang akan diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump dalam apa yang disebut sebagai “Hari Pembebasan.”
Di Eropa, indeks DAX Jerman melonjak 1,3% menjadi 22.452,79, sementara indeks CAC 40 di Paris naik 1% ke level 7.866,97. Indeks FTSE 100 di Inggris juga mencatat kenaikan 0,9% menjadi 8.659,13. Namun, di Amerika Serikat, kontrak berjangka untuk S&P 500 tetap stabil, sedangkan kontrak Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,1%.
Investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi. Harga emas sempat menembus level US$3.170 per ons sebelum sedikit melemah.
BACA JUGA: Jepang Dorong Bahan Baku Ramah Lingkungan, CRT Tegaskan Pentingnya Kolaborasi
Di Asia, pasar saham menunjukkan pergerakan beragam. Indeks Nikkei 225 di Jepang hampir tidak berubah pada 35.624,48, sementara Perdana Menteri Shigeru Ishiba dikabarkan tengah berupaya membujuk Trump agar tidak menaikkan tarif impor mobil dari Jepang. Di Hong Kong, indeks Hang Seng naik 0,2% menjadi 23.173,75, sedangkan indeks Shanghai Composite menguat 0,4% ke 3.348,44. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 1,6% menjadi 2.525,44, dan indeks S&P/ASX 200 Australia naik 1% ke 7.925,20. Sementara itu, indeks Taiex Taiwan meroket 2,8%, namun indeks Sensex di India turun 0,2%. Di Bangkok, indeks SET juga mengalami kenaikan sebesar 1,1%.
Dilansir InfoSAWIT dari AP, pada perdagangan Senin (1/4), indeks S&P 500 di AS naik 0,6%, namun tetap mencatat penurunan 4,6% sepanjang kuartal pertama tahun ini—kerugian kuartalan terburuk dalam dua setengah tahun terakhir. Indeks Dow Jones naik 1%, sedangkan Nasdaq tergelincir 0,1% akibat penurunan saham Tesla dan Nvidia.
Pasar saham AS terus mengalami fluktuasi tajam akibat ketidakpastian kebijakan tarif Trump, yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Pada Rabu (3/4), AS dijadwalkan mulai menerapkan tarif “timbal balik” yang disesuaikan dengan pajak dan beban yang dikenakan oleh negara-negara mitra dagang terhadap AS.
BACA JUGA: Kementerian ATR/BPN Sebut 194 Perusahaan Belum Urus Izin HGU, Seluas 1 juta Ha
Investor masih menunggu kepastian mengenai langkah konkret yang akan diambil pemerintah AS pada “Hari Pembebasan” ini. Jika tarif yang diberlakukan lebih ringan dari perkiraan, pasar saham dapat mengalami reli. Namun, skenario terburuk dapat membuat perusahaan khawatir dan mulai melakukan pemutusan hubungan kerja, yang berpotensi memicu pelemahan pasar lebih lanjut.
Di sektor korporasi, saham Tesla turun 1,7% pada Senin, menambah total penurunannya menjadi 35,8% sepanjang tahun ini. Kekhawatiran investor meningkat karena citra Tesla dinilai terlalu melekat dengan CEO Elon Musk, yang belakangan menjadi target kritik politik akibat perannya dalam upaya pemangkasan anggaran pemerintah AS.
Sementara itu, saham Mr. Cooper melonjak 14,5% setelah perusahaan layanan hipotek itu mengumumkan akuisisi oleh Rocket dalam kesepakatan senilai US$9,4 miliar. Di sisi lain, saham Rocket turun 7,4% setelah baru-baru ini juga mengakuisisi perusahaan daftar properti Redfin.
BACA JUGA: Nissin Food Dorong Praktik Sawit Ramah Lingkungan di Indonesia
Saham Newsmax mencuri perhatian dengan lonjakan luar biasa sebesar 735% dalam hari pertama perdagangannya, yang menyebabkan perdagangan sahamnya sempat dihentikan beberapa kali karena volatilitas ekstrem.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS turun 19 sen menjadi US$71,28 per barel, sementara minyak Brent turun 18 sen menjadi US$74,59 per barel. Nilai tukar dolar AS terhadap yen melemah dari 149,97 menjadi 149,57 yen, sedangkan euro menguat tipis ke US$1,0820 dari US$1,0817. (T2)
