“Skalabilitas ini penting bukan hanya untuk keberlanjutan bisnis, tapi untuk menjawab tantangan kebutuhan energi alternatif yang terus meningkat,” ujar Sutarwi.
Langkah ini, lanjutnya, tidak hanya soal target kuantitatif, melainkan juga penguatan ekosistem industri energi berbasis sawit—sektor yang selama ini belum banyak disentuh oleh pelaku usaha berbasis komunitas atau organisasi sosial keagamaan.
Dengan fokus pada minyak residu sawit—produk turunan kelapa sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan—GP Ansor melalui Erindo tidak hanya membuka sumber pendapatan baru, tetapi juga mengangkat kembali isu-isu keberlanjutan dan keadilan ekonomi.
BACA JUGA: Berbahan Tandan Kosong, Helm Sawit Tembus Pasar Nasional
Firmana menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk progresivitas BUMA dalam membaca peluang dan beradaptasi dengan kebutuhan zaman. “Kami melihat Lampung sebagai simpul penting dalam logistik energi nasional berbasis sawit. Jadi ini bukan proyek jangka pendek, tapi bagian dari rencana jangka panjang kami,” ungkapnya.
Dalam konteks energi nasional, apa yang dilakukan GP Ansor bisa jadi menjadi model baru, bagaimana organisasi berbasis kaderisasi bisa masuk ke sektor-sektor strategis tanpa harus meninggalkan nilai-nilai sosial dan kebangsaan. (T2)
