“Masih banyak pekebun yang belum memahami praktik budidaya yang benar. Karena itu, pelatihan ini tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga praktik langsung. Trainer kami berpengalaman dan menggunakan alat bantu yang memudahkan pemahaman peserta,” jelas Henry.
Pelatihan berlangsung selama lima hari, terdiri dari empat hari kelas dan satu hari kunjungan lapangan (field trip) ke PT Eastern Sumatra Indonesia, Bukit Maraja Estate di Simalungun. Di sana, peserta dapat melihat langsung pengelolaan kebun sawit yang profesional, mulai dari tahap Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) hingga Tanaman Menghasilkan (TM), serta sistem pembenihan.
Materi pelatihan sendiri mencakup berbagai topik penting, mulai dari persiapan benih dan lahan, teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga pengendalian hama dan penyakit. Semua disusun dalam struktur yang komprehensif untuk mendukung penguasaan teknis peserta.
BACA JUGA: PTPN IV Tegaskan Jaga Aset Negara Sesuai Hukum, Bukan Kriminalisasi Warga
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah pusat, daerah, pelaku industri, dan lembaga pelatihan dalam memperkuat posisi petani di rantai pasok kelapa sawit nasional. Diharapkan, para peserta tidak hanya menerapkan ilmu di kebunnya sendiri, tetapi juga menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing.
Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, para pekebun Batubara kini melangkah lebih pasti menuju pengelolaan sawit yang lebih produktif, berkelanjutan, dan sesuai standar nasional. (T2)
