Gerobak ini dirancang dengan dua roda depan dan sistem differential axle, membuatnya lincah bermanuver di lahan sempit dan mampu menanjak tanpa membebani tenaga petani. “Alat ini bisa diisi daya dengan panel surya dan menempuh jarak hingga 10 kilometer dalam satu kali pengisian,” terang Dr. Lila.
Ketiga inovasi tersebut telah diuji coba langsung di lahan petani di Kalimantan Selatan dan Kota Surabaya. Hasilnya menggembirakan. Para petani menyambut positif kehadiran alat-alat ini karena terbukti mengurangi kelelahan fisik dan meningkatkan efisiensi kerja.
Setelah masa riset berakhir pada 2025, produk-produk ini tengah dipersiapkan untuk proses komersialisasi melalui Asosiasi Inventor Indonesia (AII), agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh petani dan pelaku industri sawit.
BACA JUGA: GAPKI dan SPKS Bangun Kemitraan Strategis untuk Lepaskan Petani Sawit dari Jerat Tengkulak
Kolaborasi antara ITS dan BPDP ini menjadi bukti bahwa inovasi akademik mampu menjawab tantangan nyata di lapangan. ITS menegaskan komitmennya untuk terus mendorong hilirisasi hasil riset, memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung industri sawit yang lebih efisien, mandiri, dan ramah lingkungan.
Lebih jauh, ketiga inovasi ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin ke-3 (kehidupan sehat dan sejahtera) melalui deteksi dini penyakit tanaman, poin ke-7 (energi bersih dan terjangkau) melalui pemanfaatan tenaga surya, serta poin ke-8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi) lewat peningkatan produktivitas petani.
Dengan langkah ini, ITS membuktikan bahwa sains dan teknologi dapat menjadi penggerak utama dalam transformasi sektor sawit Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau dan berdaya saing. (T2)
