Dalam konteks industri sawit nasional yang sering dikritik soal isu lingkungan dan limbah, pelatihan ini menawarkan narasi alternatif. Bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari kampus, dari laboratorium sederhana, dengan ide-ide kecil yang bisa berdampak besar.
“Sektor sawit masih menghadapi tantangan limbah produksi yang terus-menerus dihasilkan. Inovasi seperti ini sangat penting agar industri bisa berjalan lebih ramah lingkungan,” ungkap Dr. Uce.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk lebih eksploratif. Menurutnya, selain cangkang sawit, masih banyak jenis limbah lain seperti pelepah, bunga sawit, lidi, tandan kosong, bahkan minyak sawit mentah, yang bisa diolah menjadi produk kreatif lainnya — mulai dari kerajinan tangan hingga bahan kecantikan.
BACA JUGA: BRIN Dorong Pemanfaatan Limbah Sawit Jadi Bioetanol G2
Workshop ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan ekonomi sirkular di sektor sawit, di mana tidak ada limbah yang benar-benar dibuang, tetapi diubah menjadi produk baru yang bernilai. Pendekatan ini diyakini menjadi jalan tengah antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Bagi mahasiswa, pelatihan ini menjadi awal yang membuka mata. “Saya baru tahu ternyata sabun bisa dibuat dari cangkang sawit, dan prosesnya juga tidak terlalu rumit,” ujar Rina, salah satu peserta yang bersemangat mencoba sendiri di meja praktik.
Dengan semakin banyak inovasi semacam ini, harapan untuk menjadikan sawit sebagai komoditas yang bukan hanya kuat secara ekonomi tapi juga ramah lingkungan semakin nyata. Dan kampus, seperti Universitas Jambi, bisa menjadi titik awal lahirnya transformasi itu. (T2)
