Perubahan sentimen pasar sejak survei bulan Maret kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang sangat basah di wilayah timur AS yang menghambat penanaman jagung. Dalam situasi seperti ini, petani kerap beralih ke kedelai yang memiliki periode tanam lebih fleksibel.
Namun secara nasional, penanaman jagung tahun ini tetap berlangsung dalam kecepatan rata-rata hingga di atas rata-rata, membuat pergeseran ke kedelai tidak terlalu signifikan. Selain itu, walaupun keuntungan finansial dari menanam jagung sejak musim gugur lalu lebih menjanjikan ketimbang kedelai, harga jual jagung sendiri belum cukup atraktif untuk memicu lonjakan luas tanam yang berarti.
Dengan estimasi analis yang lebih bervariasi dibandingkan dua tahun terakhir, kemungkinan laporan Senin nanti melenceng dari ekspektasi tetap terbuka, meski secara statistik risikonya lebih terdistribusi.
BACA JUGA: Agrinas dan GAPKI Sepakat Perkuat Kemitraan Strategis Sawit, Gugus Tugas pun Dibentuk
Dunia komoditas akan mencermati laporan USDA ini dengan cermat, bukan hanya untuk menakar suplai dan permintaan, tetapi juga karena laporan ini sering menjadi acuan utama dalam strategi perdagangan global, termasuk di pasar Asia dan Amerika Latin. (T2)
