InfoSAWIT, PASANGKAYU — Sebuah lapangan sepak bola yang sederhana di Desa Jengen Raya kini punya nama yang sarat makna, Lapangan Sepak Bola “Salim Mengga Bulu-Bulu”. Bukan sekadar fasilitas olahraga, lapangan ini menjadi simbol terima kasih warga atas perjuangan panjang dalam sengketa lahan yang akhirnya dimenangkan oleh masyarakat.
Kasus yang selama ini menghantui warga Jengen Raya, Kabupaten Pasangkayu, terkait klaim lahan oleh perusahaan sawit, akhirnya mencapai titik terang. Berdasarkan Surat Perintah Penghentian Penyelidikan (SP2Lid) tertanggal 20 Juni 2025, pihak kepolisian resmi menghentikan penyelidikan terhadap laporan yang diajukan oleh perusahaan sawit. Bagi warga, ini bukan sekadar kabar hukum—melainkan kelegaan kolektif yang telah dinanti bertahun-tahun.
Wajah-wajah tegang perlahan berubah menjadi senyum. Warga kini bisa tidur lebih nyenyak, bertani dengan tenang, dan membangun desanya tanpa rasa takut akan kehilangan hak atas tanah mereka.
BACA JUGA: Dorong Keadilan Agraria, DPRD Riau Inisiasi Pansus untuk Awasi Kewajiban Plasma Perkebunan Sawit
Di balik keberhasilan ini, ada satu nama yang begitu dielu-elukan, Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayjen TNI (Purn) Salim S Mengga. Dikenal masyarakat dengan sebutan “Puang Sayye”, Salim Mengga turun langsung ke lapangan, memediasi, menyuarakan hak warga, dan memastikan proses hukum berjalan adil.
“Seandainya bukan Puang Sayye Salim Mengga yang turun langsung, masalah ini belum tentu selesai,” ungkap Kepala Desa Jengen Raya, Abdul Rahim, dilansir InfoSAWIT dari Pemprov Sulbar, Senin (30/6/2025). Ia menyebut bahwa warga merasa benar-benar diperjuangkan oleh pemimpin yang tak sekadar memerintah dari balik meja.
Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat dan pemerintah desa secara inisiatif memberi nama lapangan sepak bola mereka dengan nama Wakil Gubernur. Uniknya, nama “Bulu-Bulu” yang disematkan merujuk pada dusun tempat kelahiran Abdul Rahim—menggabungkan rasa syukur dan kebanggaan lokal.
BACA JUGA: Mahasiswa UNJA Sulap Limbah Sawit Jadi Sabun Arang Aktif Transparan Berkelas
“Kenapa Lapangan Sepak Bola Salim Mengga Bulu-Bulu? Karena saya ingin menggabungkan nama pemimpin yang berjasa dengan kampung tempat saya lahir,” jelasnya.
Langkah cepat dan konkret dari pemerintah provinsi di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S Mengga dalam menyikapi konflik agraria ini dinilai sebagai bentuk komitmen terhadap keadilan sosial, terutama di wilayah yang selama ini menjadi lokasi ekspansi industri sawit.
