Dari Lahan ke Langit, Mimpi Sawit Bebas Emisi

oleh -1.763 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. SawitFest 2021/foto: Fitra Yogi/Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit.

InfoSAWIT, JAKARTA – Pembahasan tentang emisi karbon kini semakin relevan dan tak bisa lagi dipisahkan dari perbincangan soal masa depan bumi. Seperti diungkap Pratama (2019), emisi karbon erat kaitannya dengan efek rumah kaca. Gas-gas seperti karbon dioksida, metana, dan uap air menyerap panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi, menyebabkan suhu global meningkat secara perlahan tapi pasti.

Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memegang peran strategis dalam pengendalian emisi karbon global. Namun, pertanyaannya masih menggelitik, apakah perkebunan kelapa sawit benar-benar bisa menjadi solusi bagi penyerapan karbon, atau justru bagian dari masalahnya?

Data dari Statistik Perkebunan Unggulan Nasional 2020–2022 memberi harapan. Dengan luas lahan mencapai 14,38 juta hektare dan kemampuan menyerap sekitar 64,5 ton CO₂ per hektare, potensi penyerapan karbon oleh perkebunan sawit Indonesia pada tahun 2022 ditaksir mencapai 927,5 juta ton CO₂. Menariknya, grafik emisi karbon di pagi dan siang hari juga menunjukkan tren penurunan seiring pertumbuhan tanaman kelapa sawit—sebuah sinyal positif dari sisi ekologis.

BACA JUGA: Analis: ASEAN Harus Tuntut Akses Pasar yang Adil dari Uni Eropa dan Tiongkok, Lindungi Komoditas Strategis seperti Sawit dan Produk Halal

Namun, perlu dicatat bahwa potensi peningkatan emisi tetap ada. Menurut data Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, sekitar 94 persen emisi gas rumah kaca di Indonesia berasal dari karbon dioksida, yang sebagian besar tersimpan di dalam tanah. Aktivitas pengelolaan hutan dan konversi lahan menjadi perkebunan bisa menjadi faktor pemicu pelepasan karbon besar-besaran jika tak dikelola dengan bijak.

Inilah tantangan yang kini coba dijawab oleh dua raksasa perkebunan sawit dunia, SD Guthrie dan Sinar Mas Agribusiness & Food. SD Guthrie meluncurkan kerangka kerja ambisius bertajuk Beyond Zero, sebuah inisiatif yang tidak hanya bertujuan menekan dampak negatif lingkungan, tetapi juga mendorong dampak positif yang dapat diberikan oleh industri sawit secara sosial dan ekologis.

Sementara itu, Sinar Mas Agribusiness & Food telah mengambil langkah-langkah konkret dengan mengukur jejak karbon mereka secara menyeluruh dalam dua tahun terakhir. Mereka menetapkan tahun 2022 sebagai baseline year untuk memetakan emisi dalam tiga kategori utama, Scope 1, 2, dan 3. Pendekatan ini dirancang agar selaras dengan inisiatif global Science Based Targets, yang menjadi acuan standar emisi berkelanjutan.

BACA JUGA: Ombudsman RI dan IPOSS Bahas Penguatan Tata Kelola Sawit Lewat Riset dan Pengawasan

Lalu, bagaimana kedua perusahaan ini menerapkan strategi penurunan emisi karbon? Apa langkah konkret mereka di lapangan? Temukan jawabannya dalam Rubrik Fokus edisi Juni 2025.

Tak hanya itu, kami juga mengangkat isu hangat seputar regulasi baru Uni Eropa: European Union Deforestation Regulation (EUDR), yang mewajibkan transparansi sistem rantai pasok komoditas. Pemerintah Indonesia merespons tantangan ini dengan membangun Dasbor Nasional sebagai alat pemantau dan pelaporan yang diharapkan mampu memenuhi standar global. Selengkapnya bisa Anda simak di Rubrik Teropong Edisi Juni 2025. (T2)


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com