Sementara itu, prospek industri oleokimia Malaysia dinilai masih tertekan akibat lemahnya permintaan global dan volatilitas harga yang terus berlanjut—terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada minyak inti sawit dan pasar ekspor. Penguatan nilai tukar ringgit juga menekan pendapatan perusahaan seperti SD Guthrie, KLK, dan IOI Corp.
Terkait perdagangan internasional, keputusan Amerika Serikat untuk mengenakan tarif 25% atas produk sawit Malaysia dinilai tidak akan berdampak besar terhadap sektor ini. “Meski kebijakan tersebut membuat produk Malaysia kurang kompetitif, pangsa ekspor ke AS hanya mencakup kurang dari 3% dari total ekspor sawit Malaysia pada 2024, sehingga dampaknya terbatas,” ujar bank tersebut.
Sebaliknya, rencana pemerintah AS untuk memperluas mandat biofuel dinilai dapat mendorong kenaikan harga minyak kedelai, yang pada akhirnya bisa meningkatkan daya saing minyak sawit di pasar global.
BACA JUGA: Kemenko Dorong ISPO Lebih Komprehensif, dari Hulu hingga Hilir
Secara keseluruhan, Public Investment Bank tetap berhati-hati namun optimistis bahwa potensi pemulihan ekspor, penurunan biaya produksi, dan permintaan biofuel dapat menjadi faktor pendukung ketahanan sektor sawit Malaysia dalam beberapa bulan ke depan. (T2)
