InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Public Investment Bank Bhd mempertahankan prospek netral terhadap sektor perkebunan Malaysia, dengan proyeksi harga minyak sawit mentah (CPO) tetap stabil pada paruh kedua tahun 2025. Harga diperkirakan akan bergerak dalam kisaran RM4.000 hingga RM4.300 per ton, ditopang oleh stabilnya tingkat stok dan meningkatnya momentum ekspor.
Dalam laporan riset yang dirilis Jumat, lembaga riset tersebut menyatakan bahwa prospek harga CPO didukung oleh stok yang telah melampaui angka dua juta ton dan tren ekspor yang membaik karena keunggulan harga sawit dibandingkan minyak kedelai.
“Saat laporan ini ditulis, harga kontrak berjangka CPO berada di level RM4.330 per ton. Momentum ekspor, khususnya ke India, diperkirakan akan meningkat, didorong oleh selisih harga yang lebar antara minyak sawit dan minyak kedelai serta rendahnya stok dalam negeri India,” ungkap laporan tersebut dikutip The Edge Market, Senin (28/7/2025).
Perkiraan harga CPO untuk sepanjang tahun 2025 tetap dipertahankan pada RM4.200 per ton. Public Investment Bank merekomendasikan dua emiten unggulan, yakni Sarawak Plantation dan Ta Ann, yang menawarkan imbal hasil dividen menarik di kisaran 5% hingga 6%.
Meski pada paruh pertama 2025 sempat menghadapi tekanan biaya produksi akibat kenaikan upah minimum dan harga pupuk, bank memperkirakan biaya produksi akan lebih rendah pada paruh kedua tahun ini. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya hasil tandan buah segar (TBS) dan tambahan pendapatan dari produk sampingan inti sawit.
“Kenaikan produktivitas dan kredit dari inti sawit diharapkan dapat meringankan beban biaya,” jelasnya.
BACA JUAG: Indonesia-AS Sepakati Penurunan Tarif Dagang: Komoditas Unggulan Dibidik Dapat Perlakuan Istimewa
Faktor lain yang dapat menekan biaya adalah implementasi kebijakan iuran wajib 2% ke Dana Provident (EPF) untuk pekerja asing yang mulai berlaku pada Oktober 2025, yang diperkirakan dapat memangkas biaya tenaga kerja kurang dari 1%.
Dari sisi kebijakan, program biodiesel B40 Indonesia disebut masih berada di jalur yang tepat, dan diprediksi akan memperkuat permintaan jangka panjang terhadap minyak sawit sebagai bahan baku biofuel. Namun, bank juga menyoroti risiko lingkungan, dengan meningkatnya titik panas di Sumatra dan Kalimantan yang berpotensi menimbulkan kabut asap lintas batas apabila cuaca kering terus berlanjut.
