InfoSAWIT, YOGYAKARTA — Inovasi berkelanjutan kembali lahir dari dunia akademik Indonesia. Dr. Heri Septya Kusuma, S.Si., M.T., dosen Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri UPN “Veteran” Yogyakarta, bersama timnya, berhasil merancang solusi inovatif untuk mengatasi pencemaran lingkungan dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit sebagai bahan penyerap polutan logam berat.
Inovasi tersebut telah mendapat pengakuan di tingkat internasional melalui publikasi dalam jurnal bereputasi Desalination and Water Treatment (Elsevier, terindeks Scopus). Artikel berjudul “Theoretical perspectives and recent advances in palm-based adsorbents for sustainable heavy metal removal from aqueous systems” ini merupakan ulasan komprehensif terhadap perkembangan teknologi adsorpsi menggunakan biomassa kelapa sawit.
“Artikel ini bukan hanya menyajikan temuan-temuan mutakhir, tetapi juga menjadi peta jalan bagi pengembangan teknologi pengolahan air yang lebih efektif dan berkelanjutan,” ujar Dr. Heri dilansir dari laman resmi UPN Veteran Yogyakarta, Jumat (1/8/2025).
BACA JUGA: Karhutla Kembali Landa Muba, 70 Hektare Lahan Gambut Terbakar di Bayung Lencir
Menurutnya, pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai adsorben logam berat memberikan dampak ganda: mengurangi limbah industri kelapa sawit yang kerap menjadi persoalan lingkungan, sekaligus menyediakan alternatif hijau dalam membersihkan air tercemar.
“Limbah kelapa sawit adalah tantangan besar di Indonesia. Namun, kami melihat potensi besar di baliknya. Dengan menjadikannya sebagai bahan penyerap polutan, kami mewujudkan prinsip ekonomi sirkular — menjadikan limbah sebagai sumber daya baru,” terang Dr. Heri.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas institusi dan negara dalam riset ini. “Kerja sama global adalah kunci untuk menjawab tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Kami berharap penelitian ini bisa memicu sinergi lebih luas di tingkat internasional,” tambahnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam proyek ini. “Kami ingin menunjukkan bahwa riset bukan hanya milik dosen. Mahasiswa punya peran besar, dan inilah kesempatan mereka untuk berkontribusi nyata terhadap ilmu pengetahuan dan masyarakat,” katanya.
Dr. Heri menutup dengan harapan besar bahwa hasil riset ini tidak berhenti di laboratorium, melainkan dapat diterapkan secara luas oleh industri dan masyarakat. “Kami membayangkan teknologi adsorben berbasis limbah sawit ini menjadi bagian dari solusi global menuju pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam penyediaan air bersih, produksi yang bertanggung jawab, dan mitigasi perubahan iklim,” pungkasnya.
Dengan komitmen terhadap inovasi hijau dan kontribusi nyata terhadap lingkungan, UPN “Veteran” Yogyakarta menegaskan perannya sebagai aktor penting dalam upaya menciptakan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan. (T2)
