InfoSAWIT, SANGATTA – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menegaskan pentingnya riset bibit sawit lokal yang sesuai dengan karakter tanah Kutim, agar daerah ini tidak terus bergantung pada pasokan bibit dari Sumatera. Hal itu ia sampaikan saat menerima kunjungan Tim Sustainable Landscape of Palm Oil Initiative (SLPI) United Nations Development Programme (UNDP) di Pelangi Room Hotel Royal Victoria, Rabu (10/9/2025) lalu.
“Kalau di Sumatera bisa, kenapa Kutim tidak?” kata Mahyunadi, memotivasi agar Kutim segera memulai langkah menuju kemandirian bibit sawit.
Selama ini, Kutim sepenuhnya mengandalkan bibit dari luar daerah, terutama Sumatera. Menurut Mahyunadi, potensi riset lokal sangat besar untuk menghasilkan bibit yang lebih adaptif dengan kondisi tanah dan iklim Kutim. “Belum ada ide ke arah sana. Makanya saya mendorong agar Kutim memulai langkah ini. Kalau ada riset, nanti bisa diarahkan untuk dibiayai oleh daerah,” jelasnya dilansir InfoSAWIT, Pemkab Kutai Timur, Sabtu (13/9/2025).
BACA JUGA: 111 Petani Sawit Aceh Tamiang dan Aceh Timur Dilatih Kelola Kebun Secara Profesional
Ia mengakui bahwa riset sawit membutuhkan waktu panjang, idealnya mencakup satu siklus tanam sekitar 20–25 tahun untuk mengetahui daya hidup hingga produktivitas buah. Namun, dengan fokus riset dan dukungan teknologi, Mahyunadi optimistis hasil awal dapat dicapai lebih cepat. “Kalau riset terfokus, mungkin lima tahun ke depan kita sudah bisa mulai menghasilkan bibit yang sesuai tanah Kutim,” harapnya.
Selain membahas riset bibit, pertemuan juga menyoroti komitmen Pemkab Kutim dalam Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD KSB) yang sejalan dengan strategi ekonomi hijau Kalimantan Timur serta target nasional melalui RAN KSB. Forum Multipihak Pembangunan Berkelanjutan Kutai Timur (Formika) pun didorong memperkuat kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, perusahaan, koperasi, dan masyarakat.
UNDP Indonesia turut memperkenalkan metodologi Effective Collaborative Action (ECA) untuk memastikan keterlibatan semua pihak dalam pembangunan berkelanjutan. Sebagai bagian dari agenda, tim UNDP SLPI juga dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke desa Muara Bengalon, Tepian Baru, dan Miau Baru guna melihat langsung tantangan petani serta inovasi lokal yang ada.
BACA JUGA: Sinar Mas Agribusiness and Food Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Risiko Kebakaran 2025
Dengan riset bibit lokal yang terencana, Kutim diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sawit, menjaga kelestarian lingkungan, dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Upaya ini juga diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun industri kelapa sawit yang berkelanjutan dan mandiri. (T2)
