InfoSAWIT, BANDA ACEH – Sebanyak 111 petani kelapa sawit asal Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur mendapat pelatihan teknis budidaya sawit di Banda Aceh, 8–12 September 2025. Kegiatan yang berlangsung di Grand Nanggroe Hotel ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit 2025, hasil kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan IPB Training.
Pelatihan terbagi dalam empat angkatan, dengan 59 peserta dari Aceh Tamiang dan 52 dari Aceh Timur. Materi yang diberikan mencakup persiapan benih, pengelolaan lahan, proses penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Tujuannya, meningkatkan keterampilan petani agar mampu menjaga produktivitas kebun secara berkelanjutan.
Acara pembukaan dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Cut Huzaimah; perwakilan BPPSDMP Kementan, M. Apuk Ismane; serta Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Kelapa Sawit Ditjenbun, Mula Putra. Sementara tim pengajar dari IPB Training menghadirkan sejumlah pakar, seperti Dr. Haryadi, Sri Hermawan, Prof. Suwardi, Sofyan Jaman, Dr. Rully Anwar, dan Abdul Rosid.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 10-16 September 2025 Naik Rp. 40,06 per Kg
Dalam pemaparannya, Dr. Haryadi menekankan pentingnya penerapan Tujuh Aspek Budidaya Sawit Berkelanjutan, mulai dari legalitas lahan, peningkatan produktivitas, kesinambungan produksi, praktik ramah lingkungan, hingga traceability produk. “Pelatihan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga kesempatan bagi petani untuk memperbaiki praktik budidaya agar lebih profesional dan berorientasi mutu,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Jumat (12/9/2025).
Suasana pelatihan semakin hidup dengan jargon motivasi: “Siap Belajar, Siap Berkembang – SDM Kuat, Sawit Gemilang.” Peserta tidak hanya mendapat materi di kelas, tetapi juga praktik lapangan, termasuk kunjungan ke PT Agro Sinergi Nusantara (ASN) pada 11 September 2025. Di sana, mereka mempelajari seleksi bibit, teknik pembibitan, pemeliharaan, hingga cara membedakan bibit bersertifikat dan non-sertifikat.
Di kebun tanaman menghasilkan, peserta diajak melihat langsung teknis panen, penanganan pascapanen, serta cara mengidentifikasi OPT. Diskusi berlangsung aktif, terutama saat membahas contoh bibit yang tidak memenuhi standar dan cara mengatasinya. “Kunjungan lapang ini diharapkan menjadi bekal bagi petani untuk mengelola kebun secara lebih profesional, mandiri, dan berkelanjutan demi kemajuan sawit Indonesia,” kata salah satu fasilitator.
BACA JUGA: Kolaborasi BPDP, Ditjenbun dan IPB Training Dongkrak Kompetensi Petani Sawit di Aceh
Kegiatan ini disambut antusias para petani. Mereka aktif bertanya dan berdiskusi dengan praktisi lapangan, sembari menyerap pengalaman nyata mengenai pengelolaan kebun yang lebih efisien. Melalui pelatihan ini, diharapkan petani sawit Aceh mampu meningkatkan kemandirian, memperkuat daya saing, sekaligus ikut menopang keberlanjutan industri kelapa sawit nasional. (T2)
