InfoSAWIT, JAKARTA – Rencana implementasi mandatori biodiesel B50 pada 2026 menuai catatan kritis dari kalangan pakar energi. Sejumlah pihak menilai langkah tersebut terlalu terburu-buru dan berisiko menimbulkan masalah teknis maupun psikologis jika uji coba jalan (road test) tidak dilakukan secara komprehensif.
Anggota Pusat Studi Ketahanan Energi Universitas Pertahanan, Akhmad Hanan, menekankan pentingnya evaluasi mendalam sebelum B50 resmi diimplementasikan. Menurutnya, road test yang dipercepat tidak memberi cukup waktu untuk mengkaji dampak jangka panjang penggunaan biodiesel, terutama pada kendaraan berat seperti truk dan bus.
“Kalau implementasi B50 dilakukan terlalu cepat, ada beberapa masalah teknis yang perlu diwaspadai. Permasalahan ini sebetulnya harus dikaji dengan melibatkan institusi pendidikan, litbang, dan industri manufaktur,” kata Akhmad, dilansir InfoSAWIT dari Bloomberg Technoz, Senin (22/9/2025).
Ia menjelaskan, pengalaman di Brasil dan Uni Eropa menunjukkan penggunaan biodiesel dengan kandungan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) tinggi memiliki sifat fisik dan kimia yang berbeda dari solar murni. Kekentalan (viscosity) yang lebih tinggi serta titik tuang (pour point) yang lebih besar berpotensi memengaruhi sistem injeksi bahan bakar, terutama pada kendaraan yang tidak dirancang untuk kadar biodiesel setinggi B50.
Lebih jauh, Akhmad mengingatkan adanya risiko penumpukan deposit pada injektor, filter, dan ruang bakar, yang bisa menurunkan performa mesin sekaligus meningkatkan biaya perawatan. Di sisi distribusi, biodiesel yang mudah menyerap air dan rentan teroksidasi dinilai rawan menimbulkan masalah mikroba atau sludge dalam tangki penyimpanan.
“Di wilayah dingin atau pegunungan, biodiesel dengan campuran FAME tinggi bisa menghadapi masalah cold flow, yakni mengental atau membeku sehingga mengganggu suplai bahan bakar. Kalau distribusi dan infrastruktur penyimpanan belum siap, risikonya makin besar,” tegasnya.
BACA JUGA: ESDM Cabut 190 Izin Tambang, 15 Perusahaan di Sulawesi Tengah Terdampak
Peringatan serupa juga muncul terkait kepercayaan publik. Menurut Akhmad, bila transisi ke B50 menimbulkan gangguan teknis, dampaknya bisa merusak persepsi masyarakat terhadap program energi hijau berbasis sawit yang sejatinya strategis untuk jangka panjang.
