InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Isu emisi Greenhouse Gas (GHG) atau Gas Rumah Kaca (GRK) dari perkebunan kelapa sawit terus menjadi perhatian dalam upaya global menghadirkan industri sawit yang ramah lingkungan. Dalam ajang RSPO Annual Roundtable Conference on Sustainable Palm Oil (RT2025) di Kuala Lumpur, perhatian terhadap isu tersebut mengemuka kembali, terutama terkait upaya perhitungan emisi yang lebih akurat dan transparan.
Manager RSPO, Ashton Lim, menegaskan bahwa lembaga tersebut telah menyiapkan sistem perhitungan yang lebih komprehensif melalui GHG Calculator, sebuah alat bantu untuk mengukur jejak emisi secara presisi di sektor perkebunan kelapa sawit.
“Perhitungan GHG dapat menggunakan metode kalkulator yang sudah dipersiapkan sejak tahun 2024 silam,” ujar Ashton Lim saat berbicara pada acara RT2025 yang dihadiri InfoSAWIT, Rabu (5/11/2025) di Kuala Lumpur.
BACA JUGA: RT2025: Wamenlu RI, Arif Havas Oegroseno Dukung Perdagangan Minyak Sawit Berkelanjutan
Ia menjelaskan, perhitungan yang cermat terhadap emisi GHG bukan hanya sebatas kewajiban pelaporan, melainkan menjadi dasar penting untuk mengembangkan strategi pengelolaan berkelanjutan di sektor sawit. Melalui kalkulator tersebut, setiap perkebunan dan pabrik kelapa sawit dapat menghitung, memantau, serta mengurangi emisi secara terukur.
Ashton juga mengungkapkan potensi besar pengelolaan limbah perkebunan sawit sebagai sumber energi hijau. “Sebagai contoh, kita bisa mendapatkan energi listrik dari pengelolaan limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) atau Palm Oil Mill Effluent (POME),” jelasnya.
Ia menambahkan, dengan penerapan teknologi berkelanjutan, seluruh proses produksi—mulai dari perkebunan hingga pabrik—dapat dikelola secara efisien dan ramah lingkungan. RSPO pun mendorong agar seluruh pelaku industri sawit menuju konsep industri tanpa limbah (zero waste industry), sehingga keberlanjutan bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata di lapangan.
Langkah RSPO ini diharapkan mampu memperkuat posisi minyak sawit berkelanjutan di pasar global, sekaligus menjawab kritik terhadap kontribusi sektor sawit terhadap perubahan iklim. Dengan perhitungan emisi yang lebih transparan dan akurat, industri sawit Indonesia dan dunia diharapkan semakin siap menghadapi tuntutan keberlanjutan internasional. (T1)
