InfoSAWIT, YOGYAKARTA — Rektor Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Harsawardana, menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan teknologi dan perilaku generasi muda. Hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan Media Gathering Dies Natalis Instiper ke-67, diikuti InfoSAWIT, secara daring pada Rabu (26/11/2025).
Menurutnya, generasi saat ini tumbuh dengan kemampuan digital yang jauh lebih natural dibanding sebelumnya. Anak-anak muda dapat mempelajari banyak hal langsung dari internet—mulai dari merakit drone, membuat konten video, memetakan area, hingga mengoperasikan perangkat untuk berbagai pekerjaan teknis, termasuk di perkebunan.
“Sekarang mahasiswa sudah sangat familiar dengan dunia digital. Mereka bisa belajar hal-hal praktis secara mandiri, dari merakit drone sampai memanfaatkannya untuk fotografi, pemetaan, bahkan penyemprotan di kebun,” ujar Harsawardana.
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya Makin Percaya Diri, RSPO Sahkan Standar Baru ISH
Ia menilai pendekatan lama—di mana dosen menjelaskan teori secara satu arah di kelas—sudah tidak lagi relevan. Banyak pengetahuan teknis kini tersedia secara terbuka, sehingga tugas dosen bukan lagi memindahkan isi buku ke papan tulis, melainkan memverifikasi, menguji, dan memperdalam apa yang sudah mahasiswa dapatkan dari berbagai sumber.
“Dulu dosen memindahkan teori dari buku ke papan tulis. Tetapi hari ini mahasiswa datang ke kelas bukan untuk mendengar ulang, melainkan untuk memastikan apakah yang mereka pelajari secara mandiri itu benar,” ujarnya.
Menuju Pendidikan Modular, Fleksibel, dan Adaptif
Harsawardana menjelaskan bahwa berbagai universitas dunia sudah lebih dulu mengintegrasikan pendekatan pendidikan digital dan modular. Model ini memungkinkan mahasiswa mengambil kompetensi tertentu dalam bentuk modul pendek, kemudian kembali lagi untuk menambah kemampuan baru sesuai kebutuhan.
BACA JUGA: Mahasiswa ITB Sulap Limbah Sawit Menjadi Pupuk Bernilai Tinggi
“Anak muda sekarang ingin belajar cepat. Kalau sebuah keahlian bisa diperoleh dalam setahun, mereka tidak ingin menunggu empat tahun,” katanya.
Instiper, lanjutnya, tengah mempersiapkan kerangka pendidikan yang lebih fleksibel: mahasiswa dapat mengambil modul keterampilan tertentu, mendapatkan sertifikat kompetensi, lalu kembali mengambil modul lanjutan kapan pun dibutuhkan.
Konsep ini sejalan dengan empat kata kunci yang menurutnya kini menjadi arah kebijakan pendidikan nasional, yakni modular, fleksibel, adaptif, dan berbasis platform digital.
BACA JUGA: Tak Ada Persepsi Negatif di Eropa, Sawit sebagai Bahan Baku SAF, Klaim Petinggi Malaysia
“Pendidikan harus bisa mengikuti perubahan sosial, hukum, ekonomi, dan terutama teknologi,” tegas Harsawardana.
