InfoSAWIT, JAKARTA — Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan kinerja solid pada akhir 2025. Data resmi yang dirilis pemerintah pada Senin menunjukkan Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar US$ 2,52 miliar pada Desember 2025, melampaui perkiraan pasar sebesar US$ 2,45 miliar sebagaimana dihimpun dalam jajak pendapat Reuters.
Menurut Reuters, sebagaimana dipublikasikan secara online oleh InfoSAWIT, Selasa (3/2/2026), capaian surplus tersebut didorong oleh kinerja ekspor yang tumbuh lebih cepat dibandingkan impor sepanjang bulan Desember.
Nilai ekspor Indonesia tercatat meningkat 11,64% secara tahunan menjadi US$ 26,35 miliar. Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang sebelumnya memperkirakan penurunan ekspor sekitar 2,40%.
BACA JUGA: Prabowo Tegaskan Swasembada Pangan–Energi, Sawit Disebut Miracle Crop
Penguatan ekspor tersebut terutama ditopang oleh kenaikan pengapalan minyak sawit dan produk nikel, yang tetap menjadi andalan utama dalam struktur ekspor nasional. Kinerja positif kedua komoditas ini kembali menegaskan peran strategis sektor sumber daya alam dalam menopang perdagangan luar negeri Indonesia.
Sementara itu, impor juga menunjukkan tren meningkat. Sepanjang Desember 2025, nilai impor tercatat naik 10,81% secara tahunan menjadi US$ 23,83 miliar, jauh di atas perkiraan analis yang sebelumnya memprediksi penurunan sekitar 0,7%.
Secara kumulatif, Indonesia menutup tahun 2025 dengan surplus perdagangan sebesar US$ 41,05 miliar, meningkat signifikan dibandingkan US$ 31,33 miliar pada 2024. Peningkatan surplus tahunan ini mencerminkan daya tahan ekspor Indonesia di tengah dinamika ekonomi global, sekaligus kontribusi berkelanjutan dari komoditas unggulan, termasuk kelapa sawit.
BACA JUGA: MKH Oil Palm Optimistis Harga CPO 2026 Tetap Kuat, Kinerja Keuangan Cetak Rekor Tertinggi
Ke depan, pelaku pasar menantikan rilis lanjutan data ekonomi dari Statistics Indonesia (BPS), yang dijadwalkan menyampaikan data inflasi Januari serta sejumlah indikator ekonomi lainnya pada hari yang sama. Data tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih lengkap mengenai kondisi perekonomian nasional memasuki awal 2026. (T2)
