Meski semester kedua tertekan, secara tahunan segmen ini masih mencatat pertumbuhan laba sebesar 32% menjadi US$356,5 juta pada FY2025, dibandingkan US$269,1 juta pada FY2024. Kinerja tersebut didorong harga minyak sawit yang lebih tinggi serta volume penjualan gula yang lebih kuat pada semester pertama 2025. Namun, total produksi TBS sepanjang tahun tetap turun 2% menjadi 4.039.764 metrik ton, dari 4.109.244 metrik ton pada FY2024.
Prospek 2026
Segmen Others membukukan keuntungan sebesar US$36,6 juta pada 2H2025, naik dari US$20,9 juta pada periode yang sama tahun lalu, terutama berasal dari keuntungan mark-to-market atas investasi sekuritas grup. Untuk FY2025, segmen ini mencatat laba US$19,7 juta, berbalik dari kerugian US$38,1 juta pada FY2024.
Chairman dan CEO Wilmar, Kuok Khoon Hong, menyatakan 2025 merupakan tahun yang penuh tantangan dengan lingkungan global yang kompleks. Ketegangan geopolitik, tarif perdagangan, serta dinamika regulasi memaksa perseroan untuk menyesuaikan rantai pasok dan model bisnisnya.
“Dengan memanfaatkan jaringan manufaktur dan distribusi global kami, serta didukung tenaga kerja yang tangguh, kami mampu mengatasi berbagai tantangan dan membukukan hasil yang cukup baik untuk FY2025,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi operasional pada 2026 diperkirakan masih menantang. Namun, dengan asumsi tidak terjadi keadaan luar biasa, perseroan optimistis kinerja FY2026 akan tetap memuaskan. (T2)
