Sementara jalur melalui Terusan Suez juga dinilai memiliki biaya yang relatif tinggi sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi eksportir.
“Kalau jalur pengiriman harus dialihkan, biaya logistik bisa meningkat karena kebutuhan bahan bakar yang lebih besar,” jelasnya.
Ekspor Sawit ke Eropa dan Afrika
Di tengah situasi global yang tidak menentu, ekspor sawit Indonesia masih terus berjalan ke berbagai kawasan dunia.
BACA JUGA: Stok Minyak Sawit Malaysia Turun 3,9% pada Februari 2026, Produksi dan Ekspor Turut Melemah
Eddy mencatat ekspor sawit Indonesia ke kawasan Eropa mencapai sekitar 3,23 juta ton, sementara ekspor ke kawasan Eurasia relatif kecil.
Sementara itu, ekspor ke kawasan Afrika masih berjalan cukup baik, meskipun pengiriman ke beberapa negara seperti Mesir mengalami gangguan akibat dinamika geopolitik.
“Kita bersyukur ekspor masih berjalan. Namun jika situasi ini berkepanjangan maka dapat berdampak pada pembelian karena meningkatnya biaya logistik,” ujarnya.
BACA JUGA: Importir India Tahan Pembelian Minyak Nabati, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pengiriman
Eddy menegaskan bahwa industri kelapa sawit harus dipandang sebagai aset strategis nasional yang perlu dijaga melalui kebijakan yang kondusif dan seimbang.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memperkuat diplomasi perdagangan untuk menghadapi berbagai kebijakan tarif di pasar global, sekaligus meninjau kembali kebijakan pajak dan pungutan agar tidak membebani industri.
“Sawit harus menjadi aset industri strategis bangsa. Kebijakan yang ada harus dikelola dengan seimbang agar industri dapat menghasilkan produksi maksimal dan terus memberikan kontribusi bagi negara,” tegasnya.
BACA JUGA: Pertanian Regeneratif Dinilai Jadi Solusi Pemulihan Lahan dan Peluang Ekonomi Petani
Ia juga mengingatkan agar berbagai informasi negatif dan hoaks mengenai industri sawit tidak dibesar-besarkan, meskipun pihaknya tetap terbuka terhadap kritik yang konstruktif.
“Kami di GAPKI tidak risih untuk dikritik, silakan saja. Namun jangan sampai hoaks dibesar-besarkan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Eddy juga mengingatkan bahwa GAPKI kini memasuki usia ke-45, dan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga stabilitas industri sawit yang berperan penting dalam menopang perekonomian nasional. (T2)
