“Residu cair yang dihasilkan masih bisa dimanfaatkan, sehingga mendukung produksi yang minim limbah,” jelas Hosta.
Hasil analisis life cycle assessment (LCA) juga menunjukkan bahwa jejak karbon dari produksi biogasoline ini relatif rendah, sehingga selaras dengan prinsip energi berkelanjutan.
Inovasi ini juga diarahkan untuk mendukung kemandirian teknologi Indonesia. Saat ini, penerapan awal telah dilakukan pada mesin pertanian yang lebih fleksibel terhadap bahan bakar alternatif.
BACA JUGA: Prabowo: Penyelamatan Rp31,3 Triliun Bukti Komitmen Jaga Kekayaan Negara
Dengan pemanfaatan bensin sawit, petani diharapkan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bahan bakar berbasis minyak bumi yang harganya fluktuatif.
Ke depan, ITS berencana memperluas skala produksi serta mendorong implementasi nasional melalui koordinasi dengan Kementerian ESDM.
Langkah ini dinilai strategis dalam menekan ketergantungan impor energi sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam sektor energi bersih dan penanganan perubahan iklim. (T2)
