InfoSAWIT, SURABAYA – Inovasi energi berbasis kelapa sawit kembali menunjukkan potensinya sebagai solusi masa depan di tengah tekanan krisis energi global dan dorongan transisi menuju energi hijau.
Dilansir InfoSAWIT dari ITS, pada Sabtu (11 April 2026), tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil mengembangkan bahan bakar alternatif berbasis crude palm oil (CPO) yang dikenal sebagai bensin sawit atau biogasoline (Benwit).
Inovasi ini digagas oleh dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Hosta Ardhyananta, bersama timnya sebagai upaya menghadirkan energi terbarukan rendah emisi sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
BACA JUGA: PPKS Perkuat Penyerbukan Sawit Lewat Pelepasan Serangga Asal Tanzania
Rektor ITS, Bambang Pramujati, menilai inovasi ini menjadi momentum penting bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasokan energi global, khususnya akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar,” ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan sawit sebagai sumber energi dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus membuka peluang pengembangan teknologi dalam negeri.
BACA JUGA: Ganoderma di Perkebunan Sawit: Mitos Peran Ternak dan Fakta Penyebaran Spora
Teknologi Catalytic Cracking Tingkatkan Efisiensi
Dalam proses produksinya, tim ITS menggunakan metode catalytic cracking, yaitu teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul hidrokarbon yang lebih ringan menggunakan katalis.
Awalnya, proses ini memanfaatkan katalis berbasis alumina (γ-Al₂O₃) dengan tingkat konversi sekitar 60 persen, namun masih membutuhkan suhu tinggi hingga 420 derajat Celsius.
Pengembangan lebih lanjut menghadirkan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO), yang terbukti meningkatkan efisiensi proses secara signifikan.
BACA JUGA: PTPN IV PalmCo Siap Jadi Lokasi Awal Implementasi Serangga Penyerbuk Unggul Sawit
Melalui pendekatan ini, suhu operasi berhasil ditekan menjadi sekitar 380 derajat Celsius, sementara rendemen biogasoline meningkat hingga 83 persen.
Bensin sawit yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek (C5–C11), yang merupakan komponen utama bensin komersial.
Tak hanya itu, proses produksinya juga dirancang mendukung konsep zero emission. Gas hasil samping dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor, sementara residu cair dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain.
