InfoSAWIT, JAKARTA – Penyakit Ganoderma masih menjadi salah satu ancaman utama dalam budidaya kelapa sawit. Namun, anggapan bahwa keberadaan ternak di areal perkebunan menjadi penyebab utama penyebaran penyakit ini dinilai tidak tepat secara ilmiah.
Saat berbicara pada acara 3rd Integrated Cattle and Oil Palm Conference (ICOP), yang dihadiri InfoSAWIT, Rabu (8/4/2026), Prof. Maja Slingerland, dari Department of Plant Production Systems, Wageningen University & Research, mengatakan bahwa, jamur Ganoderma memiliki kemampuan reproduksi yang sangat tinggi melalui spora yang tersebar luas di lingkungan.
Ia mengungkapkan bahwa satu tubuh buah (mushroom) Ganoderma dapat menghasilkan hingga 40.000 spora per menit per sentimeter persegi. Dalam sehari, jumlah tersebut dapat mencapai miliaran spora yang tersebar di udara dan lingkungan sekitar perkebunan.
BACA JUGA: PTPN IV PalmCo Siap Jadi Lokasi Awal Implementasi Serangga Penyerbuk Unggul Sawit
“Dengan jumlah spora yang sangat besar tersebut, sulit untuk menyimpulkan bahwa pergerakan ternak atau manusia menjadi faktor utama penyebaran penyakit,” jelasnya.
Menurutnya, spora Ganoderma sudah secara alami berada di berbagai titik lingkungan, sehingga keberadaan sapi yang melintas di kebun tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan penyebaran penyakit.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendekatan yang menyalahkan ternak sebagai penyebab utama justru dapat mengaburkan fokus pada faktor yang lebih relevan dalam penyebaran penyakit ini.
Sebaliknya, Prof. Slingerland mendorong agar perhatian lebih diarahkan pada potensi kerusakan akar tanaman atau adanya luka pada jaringan tanaman yang dapat menjadi pintu masuk patogen.
“Kita perlu melihat kemungkinan adanya kerusakan akar atau titik masuk infeksi. Itu jauh lebih relevan dibandingkan menyalahkan mobilitas ternak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pendekatan berbasis ilmiah dalam menangani Ganoderma, termasuk pengelolaan sanitasi kebun, pemantauan kesehatan tanaman, serta penelitian lanjutan terkait mekanisme infeksi.
BACA JUGA: SISKA Bisa Jadi Solusi Cerdas Atasi Kewajiban FPKMS di Tengah Krisis Lahan di Riau
Dengan pemahaman yang lebih tepat, pelaku industri diharapkan tidak lagi terjebak pada asumsi yang belum terbukti, melainkan fokus pada strategi pengendalian yang efektif dan berbasis data. (T2)
