“Kalau negara sudah hadir di pintu ekspor, maka petani juga harus diberi tempat dalam arsitektur baru industri sawit nasional,” tegas Junaindra.
Ia mengingatkan, tanpa keberpihakan yang jelas kepada petani, kebijakan ekspor satu pintu berpotensi hanya menjadi perubahan pada level tata niaga tanpa memberi manfaat langsung di lapangan.
Bagi SAMADE, kebijakan ini dapat menjadi awal babak baru industri sawit nasional, ketika petani tidak lagi hanya berbicara soal harga TBS harian, tetapi mulai terlibat dalam kepemilikan pabrik, pengolahan CPO, akses ekspor, hingga penguatan ekonomi desa berbasis sawit.
BACA JUGA: Dugaan Manipulasi Harga CPO Lewat Singapura, Menkeu: Tutup Kebocoran via DSI
“Petani sawit sudah lama menjadi tulang punggung industri sawit Indonesia. Maka ketika negara menata ulang ekspor CPO, petani harus ikut menikmati manfaatnya,” pungkas Junaindra. (T2)
