Situasi tersebut berpotensi mendorong sebagian pembeli global mengalihkan sumber pasokan mereka ke Malaysia guna memperoleh jaminan pasokan yang lebih stabil.
Selain itu, MPOC mengingatkan bahwa kenaikan harga pupuk akibat konflik Amerika Serikat dan Iran dapat memengaruhi penggunaan pupuk oleh petani sawit di Indonesia dan Malaysia. Dampaknya terhadap produktivitas diperkirakan baru akan terlihat dalam beberapa bulan mendatang.
Risiko El Niño Jadi Penopang Harga
Ke depan, MPOC melihat risiko El Niño sebagai salah satu faktor utama yang akan menopang harga CPO.
BACA JUGA:Harga TBS Sawit Jambi Periode 19-25 Juni 2026 Cenderung Stagnan
Meski hingga Juni perkebunan sawit di Malaysia dan Indonesia belum mengalami dampak signifikan, peluang munculnya El Niño yang lebih kuat mulai Juli atau Agustus semakin meningkat.
Fenomena tersebut berpotensi mengurangi curah hujan dan menciptakan kondisi lebih kering di Asia Tenggara, Australia, serta India. Namun dampaknya terhadap produksi sawit umumnya baru terlihat setelah jeda waktu sekitar sembilan hingga dua belas bulan.
Meski demikian, MPOC mengingatkan bahwa ruang kenaikan harga CPO tetap berpotensi terbatas oleh tingginya stok minyak nabati di negara-negara pengimpor utama.
“Persediaan minyak nabati India pada Mei tercatat mencapai 2,2 juta ton atau level tertinggi dalam 17 bulan terakhir. Sementara stok minyak nabati di Tiongkok mendekati 2 juta ton, menjadi yang tertinggi sepanjang 2026,” catat MPOC.
Selain itu, prospek ekonomi biodiesel juga mulai melemah karena harga gasoil kini berada di bawah harga minyak sawit di pasar berjangka, sehingga mengurangi daya tarik penggunaan CPO sebagai bahan baku energi.
Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, MPOC memperkirakan harga CPO akan tetap bertahan pada level yang relatif tinggi sepanjang Juli, meski laju penguatannya diperkirakan tidak akan terlalu agresif akibat tekanan dari tingginya stok minyak nabati global. (T2)
