InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Prospek pasar minyak sawit global memasuki semester kedua 2026 diperkirakan tetap positif. Dewan Minyak Sawit Malaysia atau Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memperkirakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) akan bergerak di kisaran RM4.400 hingga RM4.650 per ton sepanjang Juli 2026, ditopang oleh potensi pengetatan pasokan di Indonesia dan meningkatnya risiko fenomena El Niño.
Dilansir InfoSAWIT dari keterangan resmi MPOC, Senin (22/6/2026), kondisi pasar saat ini menunjukkan adanya perubahan mendasar pada keseimbangan pasokan dan permintaan minyak nabati global yang berpotensi mendukung harga CPO dalam beberapa bulan mendatang.
MPOC mencatat produksi minyak sawit Malaysia pada Mei 2026 turun 6,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 1,51 juta ton. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh fase istirahat sementara tanaman sawit setelah periode produksi tinggi yang berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Maret 2026.
“Selain itu, jumlah hari panen yang lebih sedikit akibat adanya dua hari libur nasional pada Mei turut berkontribusi terhadap penurunan produksi bulanan,” demikian catat MPOC dalam laporannya.
Di sisi perdagangan, ekspor minyak sawit Malaysia pada Mei juga mengalami perlambatan. Kondisi tersebut sebenarnya telah diperkirakan sebelumnya karena aktivitas pembelian yang melemah selama Maret dan April akibat tingginya volatilitas harga.
Meski demikian, secara kumulatif ekspor Malaysia selama Januari–Mei 2026 justru menunjukkan kinerja yang kuat. Total ekspor meningkat 783 ribu ton atau sekitar 13,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-Juni 2026 Turun Rp213,27 per Kg
India, Kenya, dan Vietnam menjadi pasar yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan ekspor tersebut dengan tambahan volume mencapai 749 ribu ton.
Afrika dan ASEAN Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
MPOC menilai kawasan Afrika Sub-Sahara dan ASEAN semakin memainkan peran penting sebagai pasar strategis minyak sawit Malaysia. Dalam lima bulan pertama 2026, kedua kawasan tersebut menyerap sekitar 36 persen dari total ekspor minyak sawit Malaysia.
Angka itu meningkat signifikan dibandingkan lima tahun lalu yang hanya berada di kisaran 25 persen. Perubahan ini menunjukkan semakin luasnya diversifikasi pasar ekspor Malaysia di tengah ketatnya persaingan minyak nabati global.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit di Nagan Raya dan Abdya Dinilai Belum Adil, Petani Desak Pengawasan Pemerintah
Indonesia Diproyeksi Hadapi Pengetatan Pasokan
MPOC juga memperkirakan pasokan minyak sawit yang dapat diekspor dari Indonesia akan mulai mengetat pada akhir kuartal ketiga hingga kuartal keempat 2026.
Faktor utamanya adalah implementasi kebijakan biodiesel B50 mulai Juli 2026, produksi yang cenderung stagnan, serta meningkatnya kebutuhan domestik yang telah terjadi sejak awal tahun.
Berdasarkan proyeksi Oil World, produksi minyak sawit Indonesia pada 2026 diperkirakan relatif tidak berubah di kisaran 49,4 juta ton. Namun dalam empat bulan pertama tahun ini, kombinasi ekspor dan konsumsi domestik telah meningkat sekitar 2,2 juta ton atau 15 persen.
