Yang menarik, perjalanan ini tidak dimulai dari nol. Sejak 2022, STAA telah membangun fondasi yang kini tampak seperti potongan puzzle yang mulai saling mengunci, sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), inventarisasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK), penilaian ulang kawasan bernilai konservasi tinggi (HCV) dan stok karbon tinggi (HCS), hingga sistem due diligence pemasok berbasis standar Eropa.
Bahkan sebelum resmi menjadi anggota RSPO, perusahaan ini telah melakukan gap assessment— semacam audit internal untuk mengukur kesiapan terhadap standar internasional. Hasilnya, kata Andra, cukup meyakinkan, sistem internal sudah siap untuk diaudit.
Namun kesiapan teknis hanyalah satu dimensi. Dimensi lain, yang sering kali lebih sulit diukur, adalah perubahan budaya.
RSPO tidak hanya menetapkan standar; ia menuntut cara berpikir baru. Bahwa setiap keputusan operasional—sekecil apa pun— harus mempertimbangkan dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola. Bahwa keberlanjutan bukan proyek, melainkan kebiasaan.
Nyatanya keanggotaan RSPO mungkin hanyalah satu langkah. Tapi dalam lanskap industri yang kian menuntut akuntabilitas, langkah itu bisa menentukan arah. Bagi STAA, keberlanjutan tampaknya bukan lagi pilihan strategis. Ia telah menjadi identitas bisnis yang esensial untuk terus meningkatkan daya saing di kancah global. (T2)
