InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah semua ini, ada satu aktor yang kerap luput dari sorotan, petani. Dalam narasi besar industri sawit, petani sering ditempatkan sebagai bagian dari rantai pasok. Tapi bagi STAA, mereka adalah bagian integral dari transformasi keberlanjutan perusahaan, yang membutuhkan kolaborasi aktif untuk memenuhi standar pasar global.
Melibatkan petani dalam standar RSPO bukan perkara mudah. Banyak dari mereka belum memiliki peta kebun, apalagi sistem pencatatan yang rapi. Namun justru di sanalah tantangannya.
STAA memilih pendekatan yang tidak sekadar transaksional. Pelatihan, pendampingan, hingga dukungan finansial—semua diarahkan untuk membawa petani masuk ke dalam ekosistem keberlanjutan.
Rencananya, jalur sertifikasi RSPO untuk petani independen akan dibuka. Bukan hanya untuk memenuhi standar, tetapi juga untuk memberi akses pada insentif ekonomi seperti RSPO Credits.
Di titik ini, keberlanjutan mulai menunjukkan wajah lain, bukan hanya tentang menjaga hutan dan lingkungan, tetapi juga tentang membuka peluang.
Di pasar global, perubahan sudah terasa. Konsumsi Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) terus meningkat, melampaui 10 juta ton pada 2025. Di Eropa dan Amerika Utara, hampir 90 persen konsumsi sawit telah bersertifikat. Artinya sederhana, tanpa sertifikasi, pintu pasar premium akan semakin sempit.
Namun bagi STAA, ini bukan ancaman. “Ini peluang besar,” kata Head of Sustainability PT Sumber Tani Agung Resources Tbk, Andra Tetuko, kepada InfoSAWIT, pertengahan April 2026.
BACA JUGA: Ancaman El Niño Kuat Berpotensi Tekan Produksi Sawit Global, Harga CPO Diprediksi Menguat
Dengan kapasitas produksi ratusan ribu ton dan fasilitas hilirisasi yang kian kuat, perusahaan ini melihat keberlanjutan sebagai jalan menuju nilai tambah—baik dalam bentuk premium harga maupun akses pembiayaan hijau.
Di era ketika investor global semakin sensitif terhadap isu ESG, sertifikasi berkelanjutan bukan lagi pelengkap. Ia menjadi prasyarat.
Lalu, bagaimana masa depan industri sawit?
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-Juni 2026 Turun Rp213,27 per Kg
Andra memandangnya dengan optimisme yang terukur. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, ia melihat tiga arus besar yang akan membentuk ulang industri, konvergensi regulasi global, digitalisasi keberlanjutan, dan inklusi petani kecil.
Setiap ton minyak sawit, kelak, harus bisa ditelusuri asal-usulnya. Setiap produk harus membawa data— tentang emisi karbon, jejak air, hingga kondisi kerja di kebun.
Transparansi tidak lagi opsional. Ia menjadi standar. Dan di tengah semua itu, petani kecil tidak bisa lagi ditinggalkan. (T2)
