Dengan kata lain, Nigrescens akan tetap menjadi Nigrescens, Virescens tetap Virescens, dan Albescens tetap Albescens sepanjang siklus hidup tanaman.
Tidak Berpengaruh terhadap Rendemen Minyak
Lebih lanjut Herwin menepis anggapan bahwa tipe warna buah tertentu menghasilkan rendemen minyak atau Oil Extraction Rate (OER) lebih tinggi dibandingkan tipe lainnya.
“Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa Nigrescens, Virescens maupun Albescens secara alami menghasilkan OER yang lebih tinggi dibandingkan tipe warna lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, OER jauh lebih dipengaruhi oleh kualitas genetik varietas benih, tingkat kematangan tandan saat dipanen, kondisi budidaya, kesehatan tanaman, kecepatan pengolahan tandan buah segar (TBS) di pabrik kelapa sawit (PKS), serta mutu panen dan proses sortasi.
Karena itu, apabila ketiga tipe warna tersebut berasal dari varietas genetik yang sama, dipanen pada tingkat kematangan yang identik, serta diolah dalam kondisi yang setara, maka potensi rendemen minyaknya pada dasarnya juga sama.
Jangan Samakan Tipe Warna dengan Varietas Benih
Herwin juga mengingatkan agar planter tidak menyamakan tipe warna buah dengan varietas benih komersial.
BACA JUGA: Konsumsi Sawit Domestik Terus Naik, Stok Nasional Menipis di Tengah Harga CPO yang Menguat
Varietas seperti Socfindo DxP, Sriwijaya DxP, Topaz DxP, Dami Mas DxP, Lonsum DxP, maupun PPKS DxP menentukan potensi produksi, rendemen minyak, kecepatan pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, hingga kemampuan adaptasi terhadap lingkungan.
Sebaliknya, Nigrescens, Virescens, dan Albescens hanya menggambarkan pola perubahan warna buah selama proses pematangan.
Untuk memudahkan pemahaman, Herwin mengibaratkan tipe warna buah seperti warna kulit manusia. Perbedaan warna kulit telah ditentukan oleh faktor genetik sejak lahir. Meski dipengaruhi sinar matahari sehingga tampak lebih terang atau lebih gelap, karakter dasarnya tidak berubah. Prinsip yang sama berlaku pada buah kelapa sawit.
BACA JUGA: Ketegangan Warnai Sengketa Lahan di Kotawaringin Timur, Warga Tolak Pendirian Tenda Perusahaan
Karena itu, ia mengingatkan agar keputusan panen tetap mengacu pada standar kematangan perusahaan, terutama jumlah brondolan yang lepas secara alami dan indikator kematangan lainnya, bukan semata-mata berdasarkan warna buah.
“Tipe warna buah adalah identitas genetik tanaman, sedangkan tingkat kematangan adalah kondisi fisiologis buah. Jangan menyamakan keduanya. Kenali identitasnya, pahami kematangannya, dan panenlah sesuai standar agar produktivitas dan rendemen tetap optimal,” tegas Herwin. (T2)
