InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit di Bursa Berjangka di Malaysia memperpanjang kenaikan harga pada Jumat (15/4/2022), berarti menjadi kenaikan berturut-turut selama dua minggu di April 2022, menyusul adanya kekhawatiran pengetatan pasokan minyak bunga matahari, lantaran invasi Rusia ke Ukraina masih berlanjut.
Kontrak minyak sawit acuan FCPOc3 untuk pengiriman Juni 2022 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM 128 per ton, atau naik sekitar 2,04%, menjadi RM 6.416 (US$ 1.516,07) per ton pada awal perdagangan, tertinggi sejak 14 Maret lalu. Untuk periode minggu ini, harga sawit naik sebanyak 8,4%.
Seperti dilansir InfoSAWIT dari Reuters, perusahaan raksasa produk panganan Italia, Ferrero berhenti membeli minyak kelapa sawit dari Sime Darby Plantation SIPL.KL setelah layanan bea cukai AS menemukan perkebunan kelapa sawit di Malaysia diduga menggunakan sistem kerja paksa, ini mencoreng reputasi Malaysia sebagai produsen yang menerapkan praktik sawit berkelanjutan.
BACA JUGA: Harga Minyak Sawit Masih Naik, Sambil Menunggu Kejelasan Kebijakan DMO
Lantas, para supir truk di Argentina sepakat pada Kamis (14/4/2022) untuk membatalkan pemogokan yang sempat melumpuhkan transportasi kedelai dan biji-bijian di negara itu sejak Senin, kata kementerian transportasi.
Kontrak kedelai teraktif Dalian DBYcv1 naik 0,6%, sementara kontrak minyak sawit DCPcv1 naik 1,6%. Harga kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 naik 1%.
Sementara harga minyak mentah tetap lebih tinggi pada hari Kamis (14/4/2022) lamtaran investor menutup posisi jual menjelang akhir pekan yang panjang dan di tengah berita bahwa Uni Eropa mungkin secara bertahap melarang impor minyak mentah dari Rusia.
Minyak mentah yang lebih kuat membuat kelapa sawit menjadi pilihan yang lebih menarik untuk bahan baku biodiesel. (T2)
