InfoSAWIT, JAKARTA – Pengembangan teknologi methane capture menjadi biogas faktanya menjadi solusi sekaligus berkah bagi industri kelapa sawit nasional. Lantaran menjadi solusi bagi kebutuhan energi dan bahan bakar di perkebunan kelapa sawit.
Lantaran biogas itu bisa dikonversi menjadi biomethane, sehingga bisa digunakan sebagai bahan bakar transportasi bagi kendaraan jenis diesel, lewat aplikasi Diesel Dual Fuel (DDF). Dimana bahan bakar diesel bisa dicampur dengan gas, dimana komposisi campurannya bisa 70% gas dengan 30% diesel, atau ditingkatkan campuran gasnya menjadi 80% gas dan 20% diesel. “Untuk mobil bensin bisa 100% diganti ke gas,” kata Direktur Utama PT Austindo Nusantara Jaya Agri, Geetha Govindan kepada InfoSAWIT.
Bilamana setiap perkebunan kelapa sawit yang memiliki reaktor biogas, sekaligus pula membangun stasiun pengisian bahan bakar gas, dari biomethane. Maka, penghematan biaya transportasi bakal sangat tinggi. Tentu saja semua kendaraan transportasi TBS dan traktor telah terlebih dahulu dimodifikasi dengan teknologi DDF.
BACA JUGA: Mungkinkah Indonesia Ikut Stop Ekspor Minyak Sawit Ke Uni Eropa
Jelas, langkah ini bisa pula sebagai salah satu cara guna pencapaian efisiensi pengeluaran ongkos transportasi. Apalagi komponen transportasi (transportasi TBS dan bulking) mencapai 12%. Jika saja teknologi ini dikembangkan maka tidak menutup kemungkinan, reaktor biogas yang bisa menghasilkan listrik bisa juga untuk sumber bahan bakar di perkebunan kelapa sawit.
“Bila diintegrasikan dengan biogas dan biomethane maka komponen bahan bakar dari transportasi dan mekanisasi di kebun sawit bakal memangkas ongkos produksi,” tandas Geetha. (T2)
Sumber: Majalah InfoSAWIT edisi Majalah InfoSAWIT Edisi Februari 2015
