Pengaruh besar juga dihadapi perdagangan CPO dan produk turunannya, lantaran permintaan pasar Tiongkok menurun, maka pasokan CPO yang meningkat, menyebabkan stok dalam negeri bertambah.
Salah satunya, melalui konsumsi mandatori B35 yang dicanangkan Pemerintah guna mengonsumsi CPO domestik. Namun, berdasarkan literasi yang dimiliki PDBI, konsumsi bahan baku biodiesel cenderung menggunakan pasokan dari produk samping refineri atau pabrik minyak goreng.
Alhasil, mekanisme penyerapan CPO domestik melalui Biodiesel mandatori B35 kurang berdampak terhadap konsumsi dalam negeri guna menyerap CPO.
BACA JUGA: India Masih Bergantung Minyak Sawit
Gambaran ini, juga sebagai fakta akan penggunaan bahan baku biodiesel yang sebenarnya, bukan menggunakan bahan baku CPO melainkan dari produk samping pabrik minyak goreng.
Jika suplai terus bertambah dan konsumsi tidak bertumbuh, maka berlanjut terhadap penurunan harga jual TBS sawit yang banyak dihasilkan petani kelapa sawit. Berdasarkan analisa PDBI, kondisi ini akan mirip dengan keadaan ketika larangan ekspor dilakukan. Hanya saja, kejadiannya berbeda, lantaran kondisi sekarang, memang akibat turunnya permintaan pasar sehingga stok CPO berlebih.
Fakta berikutnya, bisa dilihat dari hasil penjualan perusahaan kelapa sawit yang sudah berlabel Terbuka (Tbk), pada laporan kuartal pertama Tahun 2023, hampir semua perusahaan publik ini, melaporkan hasil penurunan penjualan, yang bersumber dari turunnya jumlah produksi CPO dan turunnya harga jual CPO.
BACA JUGA: Awas Bisnis Sawit Bakal Kembali Terganjal PE US$ 55 per ton.
Tentu saja kedua fakta yang berhasil dianalisa PDBI ini, menjadi bagian dari gambaran bisnis minyak sawit yang sedang lesu. Namun, bisnis minyak sawit juga masih mengalami hambatan dari iklim El Nino yang berakibat suhu udara lebih panas. Bisa jadi, dalam waktu dekat, berakibat pada produksi kebun sawit yang menurun.
