InfoSAWIT, RIYADH – Arab Saudi mulai melirik investasi ketahanan pangan (food security) ke Indonesia. Salah satu komoditas yang dilirik untuk investasi adalah produk-produk edible oil. Melihat peluang ini, perwakilan perdagangan Indonesia di Riyadh, Arab Saudi, bertemu dengan perwakilan Saudi Agricultural and Livestock Company (SALIC) pada 11 Juli 2023.
“Terkait dengan produk edible oil, SALIC sangat tertarik untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia. Indonesia merupakan produsen terbesar Crude Palm Oil (CPO), baik yang dihasilkan oleh perkebunan pemerintah, swasta, maupun perkebunan rakyat,” kata Atase Perdagangan Riyadh Gunawan dalam keterangannya diterima InfoSAWIT, Rabu (26/7/2023).
Dalam pertemuan bisnis tersebut, Gunawan bertemu dengan Senior Vice President (SVP) International Investment SALIC Samih Alyaman. Gunawan memberikan informasi kepada Samih mengenai potensi investasi di Indonesia di bidang ketahanan pangan.
BACA JUGA: KGSI Lakukan Pengembangan Bibit Sawit Anti Ganoderma
Gunawan mengungkapkan, nilai ekspor minyak goreng Indonesia ke Arab Saudi pada 2022 sebesar US$ 265,73 juta, pada 2021 sebesar US$ 259,02 juta, dan 2020 adalah sebesar US$ 89,43 juta. Nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi dalam periode 2018–2022 tumbuh sekitar 44 persen. Jumlah ekspor minyak goreng tahun 2022 kurang lebih 225,98 juta MT, yang artinya menyuplai 32 persen total kebutuhan Arab Saudi.
Duta Besar RI di Riyadh Abdul Aziz Ahmad mengatakan, Arab Saudi mengimpor minyak goreng dari berbagai negara yang dalam tiga tahun terakhir (2020–2022) berturut-turut sebesar US$ 124,9 juta, US$ 117,76 juta, dan USD 884,19 juta. Impor Arab Saudi dari berbagai negara periode 2018 – 2022 tumbuh kurang lebih 38 persen. Pada 2022, total impor minyak goreng Arab Saudi dari seluruh dunia berjumlah 669,65 juta MT.
“Jumlah ini kurang lebih berkontribusi terhadap dua persen total impor barang dan jasa Arab Saudi dari seluruh dunia. Negara penyuplai terbesar minyak goreng bagi Arab Saudi adalah Malaysia, Indonesia, Oman, Persatuan Emirat Arab, Singapura, Mesir, Kanada, Spanyol, dan Amerika Serikat,” kata Dubes Abdul.
BACA JUGA: Luhut Meminta Pemerintah Daerah Dukung Audit Sawit
SALIC merupakan anak perusahaan yang diinisiasi Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. SALIC dibentuk melalui kemitraan nasional, regional, dan internasional. Kepemilikan SALIC berasal dari saham gabungan Arab Saudi yang dimiliki oleh Dana Investasi Publik (PIF) Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. SALIC dibentuk berdasarkan peraturan investasi di Arab Saudi yang menetapkan bahwa semua kegiatan investasi harus dilakukan baik di dalam negeri maupun di luar Arab Saudi. Ketentuan ini dimaksudkan sebagai strategi untuk mencapai ketahanan pangan dengan cara menyediakan produk makanan dan menstabilkan harga. (T2)
