InfoSAWT, MUMBAI – Harga kontrak minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia naik pada Kamis (12/10/2023), setelah produsen utama minyak sawit, Indonesia memastikan bahwa kegiatan ekspor tidak diwajibkan melalui bursa.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit berkode FCPOc3 untuk pengiriman Desember 2023 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM 35 per ton atau terdapat kenaikan sekitar 0,99% menjadi RM 3,586 (US$ 759,42) per metrik ton di awal perdagangan.
Pemerinta Indonesia akan meluncurkan bursa berjangka minyak sawit mentah (CPO) pada Jumat besok (13/10/2023) , namun tidak akan mewajibkan perdagangan melalui bursa tersebut, seperti dilansir Reuters.
BACA JUGA: Koalisi Masyarakat Sipil Sayangkan Gugus Tugas EUDR Tidak Transparan dan Terkesan Tertutup
Diungkapkan kepala Riset di Sunvin Group, sebuah Pialang minyak nabati yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, dalam mengantisipasi regulasi baru di Indonesia yang akan mewajibkan ekspor melalui bursa, membuat para penjual di Indonesia terburu-buru membersihkan persediaan. “Namun, saat ini, penjualan sepertinya tidak akan agresif, sehingga akan mendukung harga,” katanya,
Membanjirnya minyak bunga matahari murah dari Rusia dan Ukraina memberikan tekanan pada harga minyak sawit karena kedua produsen utama tersebut memanfaatkan depresiasi mata uang untuk meraih pangsa pasar minyak nabati yang lebih besar.
Masih dilansir Reuters, minyak kedelai berjangka di Chicago Board of Trade BOc2 turun 0,74%, pada 0306 GMT.
BACA JUGA: Pemprov Kaltim Dukung Pembangunan Pabrik Mini Minyak Goreng Sawit (Pamigo) di 7 Kabupaten
Merujuk laporan data surveyor kargo, mencatat ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1-10 Oktober naik 12,5 % menjadi 29,6% dari bulan sebelumnya. (T2)
