InfoSAWIT, SAMARINDA – Kalimantan Timur, sebuah provinsi yang dikenal dengan kekayaan sumber daya alamnya, memberikan dukungan kuat terhadap kebijakan hilirisasi minyak kelapa sawit. Kebijakan ini bukan hanya bagian penting dari strategi pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, tetapi juga menjadi solusi bagi para petani swadaya dalam memperoleh nilai tambah dari hasil kebun mereka.
Hingga tahun 2022, luas areal kelapa sawit di Kalimantan Timur telah mencapai 1.411.861 hektar, dengan produksi Tandan Buah Segar (TBS) sawit mencapai 19,2 juta ton atau setara dengan 3,8 juta ton Crude Palm Oil (CPO). Sebagai komoditi unggulan, kelapa sawit membuka peluang besar untuk mendirikan Pabrik Mini Minyak Goreng Sawit (Pamigo).
“Dimana areal perkebunan kelapa sawit yang dikelola Perusahaan Besar Swasta mencapai 972.000 ha dan areal perkebunan kelapa sawit rakyat sejumlah 373.000 Ha,” kata Kepala Dinas Perkebunan Prov Kaltim Ahmad Muzakkir pada Sosialisasi Pengembangan Industri Hilir Berbasis Kelapa Sawit, di Hotel Harris, Selasa (10/10), dikutip InfoSAWIT dari laman resmi Pemprov Kaltim.
BACA JUGA: Peran Agronomist Pada Society 5.0
Lantas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, melalui APBD Provinsi, telah mengalokasikan luas lahan lebih kurang 12.472 hektar untuk pembangunan Pamigo. Lahan-lahan ini tersebar di 7 kabupaten/kota, 31 kecamatan, dan 66 desa, melibatkan 206 kelompok tani dan 8.076 kepala keluarga. Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan mendukung Koperasi/Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar dapat berperan aktif dalam pembangunan Pamigo skala kecil.
Pembangunan Pamigo merupakan solusi cerdas untuk mengatasi dua masalah utama: harga rendah dan penyerapan TBS dari petani swadaya yang terletak jauh dari pabrik kelapa sawit. Para petani sering kali terpaksa menjual TBS mereka dengan harga rendah karena masa simpannya yang sangat singkat. Dengan adanya Pamigo, TBS sawit dapat diolah menjadi minyak goreng sawit secara lokal, menciptakan nilai tambah yang signifikan dan memperpanjang masa simpan produk.
BACA JUGA: Apical dan Asian Agri Promosi Kisah Sukses Program SMILE Untuk Petani Sawit Swadaya di Jepang
Bahkan, pembangunan Pamigo ini telah banyak dilakukan oleh beberapa daerah, terutama di pulau Sumatera dengan berbagai pola pembangunan dan investasi yang berasal dari berbagai sumber pembiayaan, baik yang berasal dari program Pemerintah (Kementerian Perindustrian- BPDPKS), dana BUMDes (sebagai contoh BUMDes Maju Jaya yang berada di Desa Suka Maju Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara) dan lokasi lainnya.
Keberadaan Pamigo ini merupakan salah satu solusi terhadap permasalahan harga dan penyerapan TBS petani swadaya yang lokasinya cukup jauh dari pabrik, sementara itu mereka tidak mempunyai pilihan lain selain menjual TBS yang masa simpannya sangat singkat. (T2)
