InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Pada Oktober 2023, harga Crude Palm Oil (CPO) diprediksi akan pulih dari penurunan yang terjadi pada bulan September. Di tengah aksi bargain hunter yang mulai muncul, harga CPO diperkirakan akan bergerak dalam kisaran RM 3.750 (setara US$ 798) hingga RM 4.000 (setara US$ 851). Meskipun ada harapan pulih, ada beberapa faktor utama yang mungkin membatasi tren bullish yang lebih kuat.
Dilansir PalmPulse terbitan Malaysian Palm Oil Council (MPOC), faktor pertama, masih tingginya persediaan minyak sawit di Malaysia yang tercatat diatas 2 juta ton dan diperkirakan akan tetap tinggi hingga akhir tahun 2023. “Kelebihan pasokan ini dapat menekan harga CPO, karena permintaan yang stabil akan sulit untuk menyeimbangkan persediaan yang melimpah,” demikian catat PalmPulse.
Lantas kedua, adanya tekanan harga CPO lantaran dipengaruhi oleh pasar kedelai. Amerika Serikat (AS) mulai memanen kedelai pada bulan September, sementara Amerika Selatan memproyeksikan peningkatan produksi kedelai sebesar 15,5% pada tahun mendatang. Peningkatan pasokan kedelai dapat mengurangi daya tarik CPO sebagai alternatif minyak nabati.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN 18 Oktober 2023 Naik 0,89 Persen, Belawan Tak Ada Kabar
Terakhir ketiga, minyak bunga matahari yang lebih terjangkau daripada CPO di pasar Eropa, dapat menjadi pesaing serius bagi CPO. Persaingan ini dapat berdampak negatif pada harga CPO karena konsumen mungkin lebih memilih minyak bunga matahari yang lebih murah.
Meskipun harga CPO diperkirakan akan pulih, faktor-faktor di atas menggarisbawahi bahwa potensi tren bullish yang kuat dalam waktu dekat relatif rendah. (T2)
